Mungkin seafood tidaklah berkelanjutan, seperti yang kamu kira



Saat ini terdapat pertumbuhan yang signifikan dalam produksi industri perikanan dan budi daya ikan secara global, yang telah mencapai rekor 214 juta ton pada tahun 2020, terdiri dari 178 juta ton hewan air, akibat adanya pertumbuhan industri bud idaya ikan, khususnya di Asia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan produsen makanan laut terbesar kedua di dunia. Namun, dengan pasokan yang melimpah dan keistimewaan geografis yang dimilikinya proses produksi makanan laut dapat menimbulkan dampak negatif. Berikut adalah tiga alasan mengapa industri perikanan tidaklah berkelanjutan untuk hewan dan lingkungan kita.


1. Industri makanan laut dieksploitasi secara berlebihan


Pada tahun 2020, produksi perikanan tangkap global adalah 90,3 juta ton, termasuk 78,8 juta ton dari perairan laut dan 11,5 juta ton dari air tawar. Untuk produksi kelautan, Indonesia termasuk dalam tujuh produsen terbesar secara global, yang menyumbang lebih dari 50 persen dari total tangkapan laut. China menyumbang 14,9 persen dari total dunia, diikuti oleh Indonesia (8,2 persen), dan Peru (7,1 persen).


Jumlah yang besar ini, datang bukan tanpa konsekuensi. Sekitar 90% kapal Indonesia mengambil tangkapan laut mereka dari area yang telah sangat terekspolitasi atau overfished dan penuh dengan kapal tangkap, yang berarti bahwa jumlah ikan yang ditangkap telah melebihi kapasitas dari batas ikan yang dapat diambil dari laut. Hal ini berdampak signifikan tidak hanya pada ketidakseimbangan jaring-jaring makanan, tetapi juga menyebabkan hilang dan punahnya biota laut penting di daerah tersebut.


2. Hewan sanglatlah menderita


Reatiler besar Indonesia masih menjual ikan hidup, seringkali tanpa adanya standar kesejahteraan yang memadai. Investigasi yang dilakukan oleh Act for Farmed Animals, mengungkapkan adanya standar kesejahteraan hewan yang buruk dalam industri budidaya ikan di Indonesia.





Ikan memiliki kemampuan untuk mengalami rasa sakit, ketakutan, dan stres. Namun, sebagian besar ikan dibesarkan di kolam dengan standar kesejahteraan yang sangat buruk. Dalam penyelidikan yang dilakukan, banyak ikan yang terlihat memiliki penyakit, dan banyak dari mereka ditemukan mati mengambang di kolam. Begitu mereka dikeluarkan dari air, ikan-ikan itu diangkut dengan es ke supermarket, sebuah cara yang mengerikan untuk membuat mereka tetap hidup selama berjam-jam, yang juga memperpanjang penderitaan mereka, dan sesampainya kemudian, dipukuli sampai mati. Sayangnya, ini adalah praktik umum yang terjadi.


3. Merusak lingkungan


Sebagian besar ikan dalam industri akuakultur diberi makan berupa tepung ikan, bahkan untuk spesies herbivora seperti ikan tilapia, seperti nila. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah menerbitkan sebuah laporan yang menunjukkan bahwa penggunaan jenis pakan dalam akuakultur ini berkontribusi terhadap penangkapan ikan yang berlebihan dan merupakan ancaman yang signifikan terhadap keanekaragaman hayati laut.


Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman spesies karang tertinggi, dan banyak laporan dan analisis yang diterbitkan melaporkan bahwa ancaman terbesar terhadap terumbu karang di kawasan Indonesia adalah penangkapan ikan yang berlebihan, yang berakibat, dapat memperburuk penurunan populasi ikan dan juga keanekaragaman hayati kita.


Kamu masih memiliki makanan laut di piringmu? Coba pikirkan lagi. Masih banyak lagi resep lezat, berkelanjutan, dan bebas dari kekejaman yang bisa kamu coba atau jalani. Kunjungi: sinergiaanimalindonesia.org/resep-laut