Manfaat pola makan berbasis nabati untuk kesehatan kardiovaskular



Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di dunia, yang telah merenggut 18,6 juta jiwa setiap tahunnya, menurut Federasi Jantung Dunia. Angka-angka ini telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir akibat berbagai faktor: seperti peran genetik, namun juga gaya hidup seseorang - mayoritas, akibat dari seberapa sering seseorang berolahraga, apakah mereka merokok dan apa yang mereka makan.

“Peningkatan penyakit kardiovaskular tentu mengkhawatirkan sehingga perlu untuk kita kembali meninjau pilihan makanan kita. Dalam hal kebiasaan konsumsi makan, para ilmuwan telah menemukan bahwa pola makan berbasis nabati dikaitkan dengan tingkat masalah jantung dan kematian yang lebih rendah,” ungkap Annabella, Project Manager Tantangan 21 Hari Vegan dari Sinergia Animal. Di Indonesia, resiko kardiovaskular yang tinggi sangatlah umum bagi masyarakat Indonesia dewasa yang berumur lebih dari 40 tahun keatas, sedangkan tingkat pengobatan pencegahannya yang rendah.


Menurut studi yang dilakukan oleh para ilmuwan dari departemen kesehatan masyarakat Universitas Johns Hopkins, salah satu universitas yang paling terkemuka di dunia, orang-orang yang memiliki pola makan berbasis nabati—tanpa konsumsi produk hewani seperti daging merah, ayam, ikan, telur maupun produk susu—dikaitkan dengan 16% lebih rendah dari risiko penyakit kardiovaskular, dan 32% lebih rendah dari risiko kematian akibat kardiovaskular. Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 12 ribu orang dewasa dari tahun 1987 hingga 2016.

Di antara mereka yang mengadopsi pola makan berbasis nabati juga memiliki perbedaan. Mereka yang memiliki asupan makanan dengan nutrisi yang lebih tinggi, seperti biji-bijian, buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan, secara konsisten dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah untuk masalah yang sama. Di sisi lain, para peserta yang paling banyak mengonsumsi produk hewani memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit kardiovaskular serta kematian akibat penyakit tersebut.


Studi lain dari University of Oxford memiliki arah yang serupa: mengonsumsi pola makan berbasis nabati dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit jantung, kolesterol dan tingkat tekanan darah yang lebih sehat. Penelitian ini menggunakan data dari lebih dari 44 ribu orang.


Coba makan sayuran

“Selain sehat, pola makan berbasis nabati sangatlah lezat, mudah disiapkan, dan terjangkau. Ribuan orang telah ikut serta dan ikut bertransisi bersama kami setiap bulannya di Indonesia dan sangat terkejut akan hasilnya,” ungkap Annabella.

Salah satu aset paling berharga dari pola makan berbasis nabati adalah jenis makanan kacang-kacangan, seperti buncis, lentil, kedelai, kacang tanah, dan kacang polong. “Kadang-kadang kita bahkan tidak ingat betapa beragamnya masakan kita. Selain lezat dan dasar untuk resep mulai dari sup hingga roti burger vegan, mereka adalah sumber protein yang jauh lebih sehat daripada produk hewani, ”tambahnya.

Sinergia Animal mengundang siapapun yang ingin mencoba pola makan berbasis nabati untuk bergabung dengan Tantangan 21 Hari Vegan. Organisasi tersebut menawarkan berbagai tips, resep, dan saran nutrisi secara gratis dan juga panduan dari profesional untuk menjadi vegan. Pendaftaran dapat dilakukan di 21harivegan.org