Sebuah Perjalanan Panjang : Mengurangi Konsumsi Daging pada tahun 2100



Penelitian ini memprediksi tren gaya hidup vegan dan mengidentifikasi faktor pendorong dalam skala yang besar terhadap pola makan untuk mengurangi konsumsi daging di akhir abad ini.


Ditulis oleh Jenny Dixon I Studi oleh : EKER, S., REESE, G., & OBERSTEINER, M. (2019) | Dipublikasikan oleh Faunalytics 14 Agustus 2020


Terdapat bukti yang nyata bahwa dengan mengurangi konsumsi daging global merupakan faktor penting untuk mencegah kerusakan iklim, namun hal tersebut bukan merupakan “fakta” yang mampu dengan mudah menginspirasi miliaran konsumen daging untuk mengubah pola makan mereka. Faktor- faktor seperti budaya, tekanan sosial, dan keperibadian semuanya dapat berperan dalam menentukan apakah seseorang memutuskan berhenti mengonsumsinya. Bagaimana variabel tersebut dapat berpengaruh dalam skala yang lebih besar, dan faktor dalam variabel apa yang seharusnya dapat diprioritaskan oleh para aktivis hewan?


Studi ini menggunakan model prediksi untuk meramalkan tren global dalam pola hidup vegetarian dan juga emisi industri agrikultur sampai dengan tahun 2100. Para peneliti juga menganalisis faktor mana yang paling berpotensi untuk mempengaruhi persentase para vegetarian dari waktu ke waktu. Model tersebut diambild ari teori psikologi manusia dan penelitian tentang perilaku manusia yang berkaitan dengan perubahan iklim.


Para peneliti mempertimbangkan beberapa skenario : berdasarkan empat kemungkinan perubahan pola makan populasi secara umum pada tahun 2050 :


Skenario 0- Referensi : Tidak ada perubahan baik kepada pola hidup konsumen daging atau memiliki pola hidup vegetarian

Skenario 1 - Skenario hidup sehat + Referensi : Semua konsumen daging mengurangi konsumsi dagingnya dengan mengikuti pedoman makan sehat, dan semua vegan tetap tidak berubah

Skenario 2- Skenario hidup sehat + vegan : semua pemakan daging mengadopsi pedoman makan sehat dan semua vegetarian mengadopsi pola makan vegan

Skenario 3 : Flexitarian + vegan : Semua pemakan daging mengadopsi pola makan flexitarian dan semua vegetarian mengadopsi pola makan vegan


Para peneliti mengakui bahwa terdapat batasan penelitian yang berkaitan dengan pola perilaku pola hidup vegetarian. Sebagai hasilnya, sulit untuk memprediksi hasil di masa depatn yang akurat. Untuk menjelaskan beberapa ketidakpastian ini, para peneliti menjalankan total 10.000 simulasi dan masing-masing menggunakan nilai yang berbeda berdasarkan perilaku manusia. Hasilnya, terdapat berbagai kemungkinan hasil untuk masing-masing dari empat skenario tersebut.


Dari semua skenario tersebut, diperkirakan bahwa jumlah vegetarian di tahun 2100 berkisar antara kurang dari 5% hingga lebih dari 60% dari total populasi. Mayoritas, jumlah vegetarian akan mendekati 20%. Dengan perkiraan ini, kecil kemungkinan akan ada perubahan besar ke pola hidup vegetarian pada akhir abad ini. Sebagai perbandingan, riset ini memperkirakan sebanyak 21,5% populasi manusia adalah vegetarian di tahun 2010.


Menariknya, peningkatan terbesar vegetarianisme berada di tahun 2100 terjadi pada skenario 0 - referensi ( dimana tidak ada perubahan). Hal tersebut terjadi karena adanya resiko negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Jika masyarakat terus menerus mengonsumsi daging dalam kecepatan saat ini hingga tahun 2050, ancaman kesehatan dan lingkungan akan menjadi lebih terlihat. Secara teori, ini dapat memotivasi konsumen untuk secara aktif menghindari resiko dengan cara mengurangi konsumsi daging.


Pada saat yang bersamaan skenario referensi dan hidup sehat serta skenario referensi menghasilkan emisi agrikultur yang lebih tinggi. Penurunan emisi terbesar berasal dari skenario konsumsi daging yang rendah. Model ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan yang positif hanya dapat terjadi jika pemakan daging dapat mengurangi konsumsinya, bahkan jika terdapat kasus ketika 40% populasi adalah vegetarian. Model tersebut juga memperlihatkan bahwa emisi industri peternakan dapat kembali ke level di tahun 2020 dalam skenario apapun walaupun terjadi peningkatan populasi.


Para peneliti juga melihat faktor psikologis dan sosial yang memiliki dampak besar terhadap tingkat vegetarianisme. Tiga faktor yang paling menojol tersebut adalah:


1. Perubahan pola hidup generasi muda ( 14-44 tahun). Para peneliti menemukan bahwa apabila sebagian populasi menjadi vegetarian, pola hidup tersebut menjadi normal. Sehingga, perubahan di masa depan terhadap vegetarianisme dapat terjadi lebih cepat. Apakah titik balik tersebut terjadi cepat atau lembat, sangat penting untuk mendorong perubahan yang berkelanjutan. Populasi yang lebih muda merupakan demografi utama karema mereka lebih sensitif terhadap norma sosial.


2. Keyakinan individu bahwa mereka dapat berperilaku tertentu dalam populasi kaum muda. Khususnya, bagi perempuan. Studi ini mengasumsikan bahwa perempuan memiliki keyakinan yang lebih tinggi terkait dengan konusmis daging. Para perempuan melihat environmentalisme atau lingkungan hidup bagian penting dari identitas mereka, dan lebih egaliter dibandingkan dengan laki-laki. Lulusan sekolah menengah atas, menjadi kelompok yang sangat penting, karena mereka merupakan persentase terbesar dari populasi muda menurut tingkat pendidikan. Sehingga, penulis menunjukkan poin penting dalam studi terbaru, dimana identitas diri tidak selalu berkaitan dengan perilaku yang ditunjukkan. Para aktivis hewan, harus berhati-hati untuk selalu fokus terhadap kepercayaan diri sebagai strategi intervensi. Hal tersebut juga sangat mungkin jika secara kolektif, bahwa keyakinan suatu kelompok mampu melakukan perubahan) dan bahkan lebih penting daripada kepercayaan diri sendiri.


Persentase dasar para pemakan daging yang berniat untuk beralih pada pola makan vegetarian.


Studi ini memberikan dua kesimpulan utama yang dapat berguna bagi aktivis hewan. Pertama, penting untuk melakukan advokasi kesadaran akan dinamika kelompok dan psikologi- bukan hanya fakta-fakta kesehatan dan resiko iklim. Kedua, penting untuk menyertakan para pemakan daging dalam upaya untuk membantu lingkungan melalui perubahan pola makan. Seperti yang diperlihatkan terhadap studi tersebut, kita bisa mengubah “jalur” yang telah ditetapkan oleh industri peternakan, namun skenario tersebut membutuhkan kita untuk bekerja mewujudkanya.