Ribuan anak sapi akan disembelih setelah berbulan-bulan di laut karena gagalnya ekspor ternak hidup

Dilaporkan bahwa 895 anak sapi yang telah terdampar di kapal selama berbulan-bulan akan dikirim untuk disembelih di Spanyol. Ini adalah ‘episode’ terakhir dari perjalanan dramatis yang dimulai pada bulan Desember, ketika dua kapal meninggalkan pelabuhan yang berbeda di Spanyol dengan membawa setidaknya 2.500 hewan. Karena dugaan wabah penyakit sapi bluetongue dikapal, mereka ditolak untuk masuk di beberapa negara, termasuk Turki dan Libya.


Setelah melintasi Laut Mediterania, salah satu kapal, Karim A. , yang sekarang berlabuh di pelabuhan Cartagena di Spanyol, pihak berwenang akan mulai menyembelih para anak sapi tersebut. Kapal lainnya, Elbeik — yang membawa lebih dari 1.700 hewan — terakhir terlihat menuju pelabuhan Piraeus, di Yunani.





Organisasi perlindungan hewan mengatakan hewan-hewan tersebut kemungkinan besar mati atau ‘sangat menderita', mengingat lamanya mereka berada di kapal dan kondisi sanitasi yang buruk— yang mana menjadi keadaan umum yang terjadi di dalam ekspor ternak hidup— terutama apabila perjalanan berlangsung lebih lama dari yang direncanakan atau diperkirakan sebelumnya.



Apa arti ekspor ternak hidup bagi hewan?


Dalam operasi ini, ribuan anak sapi dinaikkan ke kapal untuk ikut dalam perjalanan yang dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Kondisinya seringkali mengerikan: Mereka terpapar suhu yang tak tertahankan serta ekstrem, hampir tidak ada pembersihan yang dilakukan di kandang mereka (yang menyebabkan adanya penumpukan kotoran dan bau amonia yang membuat sulit bernapas), terkadang mereka tidak dapat berbaring dengan benar (dan masih ditambah resiko mereka terinjak antar sesamanya), dan akses makanan dan air bersih seringkali dibatasi. Bahkan, setelah menempuh perjalanan yang lama, kapten kapal Karim Allah tidak pernah meminta lebih banyak makanan untuk hewan-hewan tersebut. Ini hanyalah beberapa alasan mengapa kami meminta adanya larangan ekspor ternak hidup.



Perhatian dari dokter hewan juga sangat jarang terjadi di kapal-kapal tersebut. Dalam kasus Karim A. , The Guardian melaporkan seorang dokter hewan Spanyol naik ke kapal tersebut setelah beberapa bulan, dan menemukan 22 hewan telah mati di dalamnya. Sebelumnya 20 ekor anak sapi lainnya telah mati, dipotong-potong dan dibuang ke laut. Yang tersisa telah sangat menderita karena perjalanan yang panjang dan umumnya dalam kondisi yang memprihatinkan.



Kasus ini merupakan bukti tambahan bahwa ekspor ternak hidup itu adalah kejam dan tidak manusiawi, meskipun masih menjadi praktik umum sampai dengan tahun 2021. Jika kamu juga berpikir ekspor ternak hidup harus dihentikan secara global, harap tandatangani petisi ini dan meminta pemerintah Indonesia mengambil tindakan untuk melarangnya . Dan jika kamu juga yakin bahwa hewan tidak boleh mengalami perlakuan yang mengerikan ini, pertimbangkan untuk menghilangkan produk hewani dari makananmu. Daftar untuk tantangan vegan gratis kami di sini.