Pusat Inovasi Bebas Kandang dan Kesejahteraan Hewan diluncurkan di Indonesia


Peletakan batu pertama oleh Global Food Partners (GFP), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan AERES University of Applied Sciences (Aeres) di Yogyakarta, menandai peresmian pembangunan Pusat Inovasi Bebas Kandang dan Kesejahteraan Hewan di Indonesia dan Asia. Berlokasi di Yogyakarta, pusat pelatihan ini akan beroperasi sebagai fasilitas penelitian dan pengembangan yang bertujuan untuk membawa industri dan pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan keberlanjutan jangka panjang dan menyediakan model peternakan untuk produsen bebas kandang.


Dengan berdirinya pusat pelatihan tersebut menjadi sebuah kemajuan yang signifikan untuk industri telur, karena sekitar 80% dari semua produksi telur di Indonesia menggunakan kandang baterai, yang berarti bahwa lebih dari 120 juta ayam menghabiskan seluruh hidup mereka dalam kondisi tersebut. Lebih dari lima puluh perusahaan makanan telah menghentikan penggunaan telur yang diproduksi menggunakan kandang baterai di Asia, berdasarkan laporan yang diluncurkan oleh Sinergia Animal, Pelacak bebas kandang atau Cage Free Tracker, menampilkan kebijakan perusahaan dari lima negara Asia: India, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Thailand.


Tujuan dari model peternakan bebas kandang baterai ini adalah untuk mengoptimalkan pengelolaan ayam petelur bebas kandang di bawah kondisi tropis dan menunjukkan contoh praktik dalam sistem peternakan bebas kandang. Sebagai pusat pelatihan, peternakan model ini akan terbuka untuk peternak, dokter hewan, peneliti, mahasiswa, dan semua orang yang tertarik dengan wawasan terbaru dalam pengelolaan sistem bebas kandang.


Perusahaan makanan besar, seperti Burger King dan Autogrill, telah mengumumkan komitmen telur bebas kandang di Indonesia, dengan sejumlah negara juga telah mengambil langkah untuk melarang atau menghapus kandang baterai konvensional untuk produksi telur. Di antaranya adalah Bhutan, India, Selandia Baru dan Australia, serta Uni Eropa.


Kandang baterai dianggap sebagai salah satu praktik paling kejam dalam peternakan. Dalam sistem intensif ini, ayam petelur tidak dapat melakukan berbagai perilaku alami mereka, seperti melebarkan sayap sepenuhnya, mematuk, dan bersarang. Karena kurungan yang ekstrem, mereka mengalami tingkat stres yang tinggi dan jauh lebih rentan terhadap perkembangan penyakit yang menyakitkan seumur hidupnya.