13 Pabrik susu terbesar menghasilkan gas rumah kaca setara dengan Inggris

July 20, 2020

Berdasarkan laporan baru oleh Institute for Agriculture and Trade policy (IATP), sebuah LSM yang bergerak dalam penelitian mengenai makanan berkelanjutan, peternakan dan pertanian, dan sistem perdagangan, 13 perusahaan susu terbesar di dunia menghasilkan gas rumah kaca setara dengan Inggris, negara dengan perekonomian paling besar keenam di dunia. 

 

Hanya dalam waktu dua tahun, sampai dengan 2017, emisi tersebut meningkat kurang lebih sebesar 10% bahkan setelah adanya perjanjian perubahan iklim, Paris Agreement, dengan total hampir mencapai emisi tahunan 350m ton gas rumah kaca setiap tahunnya. 

 

 Foto: We Animals

 

Aspek menarik lainnya dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan besar susu dalam dekade terakhir ini telah memaksa harga susu turun di bawah harga produksi, situasi yang mengakibatkan krisis di pedesaan, di mana para peternak lokal membutuhkan subsidi untuk tetap bertahan. 

 

Lebih dari 90% emisi perusahaan industri susu dihasilkan oleh sapi, mayoritas dalam bentuk metana, gas rumah kaca dan karbon dioksida serta dinitrogen oksida dari bentuk pengemasan, transportasi, dan pupuk. 

 

“Emisi metana menjadi sebuah hantaman besar dan mampu manaikkan suhu bumi dalam jangka waktu yang pendek, yang berarti bahwa mereka dapat memicu perubahan iklim yang tidak terkendali,” ungkap Joseph Poore, peneliti dari School of Geography and the Environment di Universitas Oxford. 

 

Bukan hanya itu: di tahun 2016, tiga perusahaan daging terbesar di dunia–JBS, Cargilll, dan Tyson–bertanggung jawab terhadap lebih dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh  Prancis. Lima perusahaan peternakan terbesar juga bertanggung jawab atas lebih banyak polutan dibandingkan dengan lima perusahaan minyak seperti Exxon, Shell, dan BP. 


 

 Foto: We Animals

 

Emisi global gas rumah kaca harus dikurangi 80%  sampai dengan 90% dalam setengah dekade ke depan. Para ahli mewanti-wanti bahwa walaupun kita memberhentikan produksi energi dan transportasi untuk mengurangi emisi karbon dioksida, hal tersebut tidaklah cukup, karena gas rumah kaca yang dihasilkan dalam industri peternakan lebih besar dan berdampak lebih buruk. 

 

Laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dan Global Dairy Platform menunjukkan hal yang serupa. “Untuk membatasi peningkatan temperatur, sektor industri susu harus mengurangi emisi gas rumah kaca dan berusaha untuk mencapai masa depan yang rendah jejak karbon.”

 

Permasalahan utamanya adalah permintaan susu global yang meningkat, dan tidak mungkin cara yang berkelanjutan jika bumi memiliki cukup produk hewani untuk memenuhi permintaan sebanyak ini. Dalam setengah dekade ke depan, akan ada pertumbuhan populasi yang meningkat, dan jika tidak ada yang berubah, akan ada lebih besar permintaan pola hidup yang kaya akan daging dan susu, yang berarti bahwa emisi agrikultur global akan berlipat ganda dalam 50 sampai dengan 60 tahun ke depan. Hal ini juga disebabkan  kepercayaan yang erat dipengaruhi iklan di media massa, bahwa meminum susu dan memakan daging adalah sehat dan membantu mencegah malnutrisi. 

 

Namun sebenarnya, susu tidak sebaik apa yang diiklankan. Sebuah studi menyimpulkan semakin banyak susu yang dikonsumsi sejak masa remaja, akan lebih banyak resiko patah tulang yang dialami ketika dewasa. Selain itu, studi lain menunjukkan bahwa konsumsi produk susu juga berkaitan dengan kanker prostat dan payudara, semakin rentan terhadap diabetes, dan dapat mempersingkat rentang hidup akibat peningkatan stres oksidatif. 

 

 

 

Beralihlah ke pola hidup yang lebih berkelanjutan. Pola hidup vegan adalah salah satu hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk melestarikan kehidupan kita di bumi. Pola hidup berbasis nabati akan cenderung menghasilkan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan dengan pola hidup berbasis daging saat ini. Lakukan untukmu, untuk hewan dan bumi. Kami mengundang kamu untuk mengikuti tantangan 21 hari vegan dan buat perubahan demi pola hidup yang lebih berkelanjutan! 


 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload