Deforestasi dan Pandemi Berikutnya


Dipublikasi oleh Faunalytics, 13 Mei 2020 ; ditulis oleh Sara Streeter


Seperti yang kita semua tahu, patogen, yang dimana manusia tidak memiliki imunitas terhadapnya, dapat menyebabkan pandemi global. Selera makan kita terhadap daging meningkatkan resiko tersebut melalui degradasi lingkungan.


Kita semua sudah tahu adegan film barat klasik : Adegan para koboi yang menunggangi kawanan sapi, dan memindahkan mereka melintasi padang rumput tak berujung terbuka sambil melihat pegunungan yang bersinar tertutup salju di kejauhan. Namun hari-hari tersebut sudah lama pergi. Hanya sedikit sekali padang rumput yang tersedia di dunia, sehingga bagi para penggembala yang memelihara sapi atau hewan besar lainnya harus mengubah habitat lainya. Karena sepertiga dunia lahan di dunia adalah hutan, seringkali habitat tersebutlah yang dianggap menghalangi area penggembalaan. Kita semua tahu bahwa deforestasi menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah, namun ada sisi gelap lainya : dalam proses pembakaran hutan, manusia, dan hewan peliharaan bertemu dengan serangga dan stawa liar yang membawa patogen yang sebelumnya tidak diketahui. Untuk ini, pikirkan SARS-CoV-2, yang menjadi penyebab pandemi saat ini.


Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, telah dilacak dari pasar tradisional di Wuhan, China. Virus Corona SARS-Cov-2 ini, kemungkinan besar berpindah dari hewan ke manusia, dan meskipun kami belum 100% yakin hewan mana, atau hewan mana yang menjadi bagian dari rantai penyakit tersebut, bukti menunjukkan rantai tersebut berasal dari kelelawar dan mamalia bersisik,trenggiling. Sebagai mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia, trenggiling dihargai karena dagingnya, dan karena khasiat pengobatan sisiknya (yang mana belum terbukti). Wabah SARS Virus Corona di tahun 2002 juga sama, yang berpindah dari kelelawar tapal kuda, ke musang, lalu ke manusia.


Sebuah penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia disebut sebagai zoonosis. Dalam kasus zoonosis yang baru, kita semua belum memiliki imunitas atau kekebalan terhadapnya, sehingga mereka dapat menimbulkan ancaman kesehatan yang signifikan. Pasar hewan memberikan tempat virus zoonosis peluang yang besar untuk berpindah ke spesies lainya, karena kedekatannya dengan hewan lainya, termasuk dengan satwa liar. Untuk menginfeksi host baru, virus harus dapat menyerang secara fisik dan menemukan jalan ke sel untuk mereplikasi dirinya sendiri. Menurut U.S. Centers for Disease Control (CDC), diperkirakan 60% penyakit menular, seperti rabies, lyme, west nile, awalnya berasal dari hewan. Dan yang lebih mengerikan, tiga perempat patogen yang mematikan bersifat zoonosis.


Nyamuk merupakan salah satu pelaku terkenal dalam penularan penyakit. Membabat pohon tinggi di hutan, atau membabat hutan sampai memberikan akses matahari ke dasar hutan, dapat mengganggu aliran sungai. Hal ini memungkinkan tumbuhnya larva dari genangan air. Para peneliti menggunakan berbagai teknologi dan model pengamatan untuk menentukan apakah dan bagaimana pembukaan hutan berpengaruh dalam insiden malaria. Salah satu penelitian di Kalimantan menemukan bahwa infeksi malaria baru mengikuti pola pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, saat para pekerja mulai bekerja di tepi area yang baru dibersihkan pada area tempat nyamuk berkembang biak. Kasus malaria juga melonjak di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan dimana hutan hujan dibuka, yang biasanya untuk keperluan pertanian. Dalam tahun-tahun tersebut, juga terdapat lonjakan kasus penyakit leptospirosis dan demam berdarah.


Lalu, terdapat kelelawar. Butuh penelitian bertahun-tahun untuk mengungkap peran kelelawar dalam wabah virus SARS di tahun 2002-2003. Kelelawar juga kemungkinan besar terlibat dalam virus Ebola. Padahal, masih ada penyakit yang jarang diketahui yang juga ditakuti, yaitu virus nipah yang juga berasal dari kelelawar. Virus Nipah pertama kali muncul di akhir tahun 1990 di Malaysia. Penyakit yang disebabkan olehnya, berupa penyakit neurologis yang tidak ada obatnya, dan menewaskan 40% dari korbanya. Tempat dimana hutan hujan dibuka untuk peternakan babi menjadi titik awal dari wabah tersebut : babi dan kelelawar memakan mangga di dekat perkebunan tersebut, yang menyebabkan adanya penularan Nipah ke babi, dan ke manusia. Hal tersebut merupakan ilustrasi bagaimana penyakit zoonosis muncul, yang membawa manusia terdampak dari kontak hewan yang biasa untuk konsumsi makanan melakukan kontak dengan satwa liar.


Kita dapat menemukan contoh lainya pada penyakit cacar. Patogen ini merupakan penyebab kemunculan wabah paling awal. Munculnya penyakit tersebut kemungkinan besar muncul dari pembukaan hutan tropis di Asia saat peternakan pertama kali dimulai. Perubahan tata guna lahan membawa manusia ke area tempat tinggal satwa liar. Deforestasi juga menyebabkan fragmentasi habitat sehingga hutan dikelilingi oleh lahan pertanian dan pemukiman masyarakat. Hal tersebut merupakan efek samping yang mendorong adanya interaksi patogen, dan vektor seperti serangga dan inang. Wilayah yang telah dibuka menjadi rumah bagi spesies domestik seperti babi, kambing tikus, anjing dan kucing, yang ikut menjadi reservoir patogen yang potensial serta vektor penyebaran penyakit. Memelihara hewan ternak dalam habitat yang “terfragmentasi” dimana bercampur dengan hewan liar dan membawanya ke pasar tradisional, menciptakan lingkungan yang ideal untuk zoonosis.


Berdasarkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), 26% dari permukaan bumi digunakan untuk menggembalakan hewan yang dikonsumsi untuk makanan. Sepertiga dari tanah subur di planet ini menumbuhkan tanaman yang digunakan untuk pakan hewan ternak. Setiap tahunya, kita kehilangan 2-3% dari hutan bumi, dan mayoritasnya di negara tropis. Kerusakan hutan biasanya dimulai dari pembangunan jalan raya. Jalan baru tersebut menyebabkan adanya penebangan dan penambangan pedalaman hutan. Para petani komersil atau petani dengan sistem subsistem menggunakan jalan baru tersebut sebagai akses ke lahan baru yang mereka buka untuk menanam tanaman. Tanah yang miskin akan nutrisi hanya dapat bertahan selama beberapa tahun. Kemudian, para petani dan para peternak pindah, untuk beberapa tahun lagi sampai tanah tidak bisa lagi digunakan. Selama 25 tahun terakhir, pepohonan ditebang seluas wilayah India. Karena resiko investasi yang rendah, bahkan tanah berkualitas yang buruk dan tidak selalu produktif pun dapat menghasilkan para sapi, yang dapat sangat menguntungkan.


Selain itu di Amerika Selatan, para peneliti memperkirakan 71% pembukaan hutan hujan, dilakukan untuk membuat peternakan sapi. Meskipun sebagian besar hutan yang dibuka atau ditebang diubah menjadi padang rumput, ada satu dampak yang sering diabaikan dari pembukaan hutan di wilayah tersebut. Sebagian dari lahan yang dibuka, diolah menjadi pertanian kedelai untuk pakan hewan. Kedelai merupakan pertanian terbesar yang ditumbuhkan di Amerika Selatan. Selama dua dekade terakhir, perdagangan kedelai telah menjadi salah satu komoditas internasional terbesar di dunia. China, menggunakan kedelai untuk meningkatkan sistem operasi pangan hewan ternak secara intensif. Negara Asia lainnya juga mendukung sistem tersebut dengan memanfaatkan ketersediaan lahan di Amerika Selatan.


Wabah Covid 19 menekankan bahaya bercampurnya manusia, hewan domestik, dan satwa liar. Mengingat bahwa patogen dapat bermutasi, hutan juga dapat memunculkan penyakit, yang dapat menularkan kepada manusia, dengan potensi bahaya di mana kita tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Tindakan terbaik yang dapat kita lakukan adalah menghindari wilayah tersebut. Namun mengingat konsumsi daging sedang meningkat dan lebih banyak lahan dibutuhkan untuk memenuhi permintaan ini, tindakan tersebut tentu tidak dapat dilakukan.


Peningkatan populasi ditambah dengan peningkatan pendapatan akan mendorong konsumsi daging global dari 43 Kg menjadi 76 Kg sampai dengan pertengahan abad di masa depan. Ini mewakili peningkatan sebanyak 76% konsumsi dari konsumsi saat ini. Kurang lebih satu pertiga konsumsi daging saat ini adalah babi, dan sepertiga lainya adalah ayam, 20% nya adalah daging sapi dan sisanya adalah domba, kambing, dan hewan lainnya. PBB memperkirakan bahwa kita bisa melipatgandakan konsumsi daging dan babi sebanyak 69% dan 42% secara berturut-turut. Dan untuk sebagian besar populasi di dunia, saat ini daging memiliki harga yag lebih murah dari sebelumnya, dan relatif murah untuk pendapatan tersebut. Memang, pertumbuhan permintaan tersebut muncul paling besar di negara-negara berpenghasilan menengah, sementara secara stabil menurun di negara-negara berpenghasilan tinggi. China, khususnya dengan kelas menengahnya yang berkembang pesar dan 1,4 miliar warganya, merupakan pendorong utama tren tersebut.


Namun ada salah satu kabar baik dalam hal ini. Akibat perilaku manusia yang mendorong kemunculan dan penyebaran zoonosis, juga menjadi kemampuan kita untuk mengubah perilaku tersebut. Jika kita mengurangi konsumsi kita untuk daging, kita juga mengurangi tekanan untuk membawa banyak lebih lahan yang dibuka untuk produksi padang rumput dan sumber pakan. Hal tersebut dapat membantu mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis. Disinilah aktivis hewan dapat memainkan perannya. Sebuah studi menunjukkan bahwa motivasi kesehatan dapat meningkatkan adopsi pola makan berbasis nabati. Secara tradisional, beberapa hal yang berkaitan dengan pengaturan berat badan, kolesterol darah, hipertensi, dan sebagainya. Motif kesehatan tersebut dapat mencakup pengurangan risiko pandemi yang berasal dari zoonosis. Penyampaian pesan tentang risiko hubungan pandemi dan konsumsi daging sangat perlu disampaikan. Baik itu melalui kampanye “Senin tanpa Daging, atau kesadaran tentang pola hidup vegan, pesan kita saat ini, jauh lebih penting dari sebelumnya.