Empat dampak konsumsi produk hewani terhadap lingkungan

June 5, 2020

Kita sering melihat film dan membaca artikel tentang bagaimana kondisi bumi kita semakin memburuk setiap harinya. Kita juga tahu bahwa ribuan hewan akan punah, habitatnya menghilang, gletser meleleh, dan penyakit menular yang semakin mematikan. Namun, apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya terjadi? Berhenti mengonsumsi produk hewani merupakan salah satu cara terbaik yang dapat kita lakukan untuk lingkungan.Inilah mengapa:

 

 

1. Deforestasi 


Deforestasi merupakan bentuk degradasi lingkungan yang berhubungan dengan meluasnya peternakan hewan karena hutan tropis seringkali dimusnahkan atau dibakar secara intens untuk memberikan ruang berupa padang rumput untuk memberi makan hewan 

 

Industri peternakan merupakan salah satu penyebab utama deforestasi di semua negara-negara di sekitar Amazon dan berkontribusi pada 80% deforestasi hutan di wilayah tersebut. Kebakaran hutan Amazon yang mengejutkan dunia di tahun 2019, contohnya, diawali dari aktivitas para peternak yang harus membuat lahan untuk padang rumput. Akibatnya, aktivitas tersebut menyebabkan adanya kerusakan 85% lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

 

 

Selain itu deforestasi juga menciptakan ladang untuk menanam tanaman biji-bijian yang akan diberikan untuk memberi makan hewan ternak yang dipelihara untuk daging, telur, dan produk susu di seluruh dunia. Sekitar tiga per empat produksi kacang kedelai global digunakan untuk memberi makan hewan ternak. Di tahun 2050, produksi kedelai harus ditingkatkan sampai dengan 80% yakni sebanyak 390 juta tons dan lebih dari 265 juta ton jagung diperlukan untuk memberi makan semua hewan yang “ditakdirkan” untuk dikonsumsi.

 

Jika kamu tidak makan daging dari sekitar area hutan Amazon ( yang mungkin tanpa sepengetahuanmu kamu juga memakannya), dan kamu juga makan produk hewani, kamu bisa jadi berkontribusi pula terhadap deforestasi di savana dan padang rumput alami di Brazil, Gran Chaco dan the Pampa di Argentina serta padang rumput di Amerika Utara. 

 

“Dengan mengurangi eksploitasi di lahan, mengurangi permintaan melalui perubahan pola makan juga dapat mengurangi intensitas produksi daging. Hal tersebut dapat mengurangi erosi tanah, juga dapat menguntungkan indikator lainya, seperti mengurangi deforestasi dan degradasi tanah,” ungkap Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB (IPCC). 

 

2) Perubahan Iklim 

 

Ketika kita berpikir tentang perubahan iklim, bayangan terhadap banyaknya mobil di jalan raya sering ada di benak kita. Padahal, sebaliknya, peternakan hewan merupakan aktivitas yang memproduksi lebih banyak emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan mengendarai mobil, dengan total sebanyak 14,5% adalah jumlah dari semua emisi yang disebabkan oleh aktivitas manusia, berdasarkan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta 72 sampai dengan 78% merupakan total emisi  gas rumah kaca dari peternakan, berdasarkan studi dari Universitas Oxford

 

 

 

Di tahun 2016, baru tiga perusahaan daging di dunia, JBS, Cargill, dan Tyson saja telah bertanggung jawab terhadap lebih dari emisi gas rumah kaca daripada semua gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Prancis. Lima perusahaan daging terbesar di dunia bertanggung jawab terhadap gas rumah kaca, dibandingkan dengan perusahaan minyak seperti Exxon, Shell, dan BP. 

 

Di beberapa tahun belakangan ini, kita juga mulai merasakan akibat dampak buruk perubahan iklim: meningkatnya temperatur global, laut, dan lapisan es kehilangan ketebalan dan ukuranya, gletser meleleh, permukaan laut naik, gelombang panas, kekeringan, hujan, dan banjir semakin sering. Berdasarkan laporan dari ahli mengenai hak asasi manusia  PBB, Philip Alston, meningkatnya krisis iklim juga dapat mengancam demokrasi dan hak sipil dan politik. 

 

IPCC menyatakan bahwa “Perubahan pola makan yang beralih dari daging ke berbasis nabati dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, mengurangi lahan pertanian dan rerumputan yang digunakan, meningkatkan perlindungan keanekaragaman hayati , dan mengurangi biaya mitigasi. Organisasi tersebut menekankan pola diet dengan lebih  berbasis nabati seperti dari sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, dan sedikit produk hewani lebih mempromosikan kesehatan dan berkaitan dengan dampak yang jauh lebih sedikit daripada pola makan berbasis hewan atau daging saat ini.

 

3) Kontaminasi air dan tanah 

 

Peternakan bertanggung jawab terhadap 92% penggunaan air bersih, dan produk hewani berhubungan secara langsung dari sepertiganya, tanpa menghitung konsumsi tidak langsung, karena mayoritas biji-bijian digunakan untuk memberi makan hewan ternak. 

 

Isu yang lain untuk dipertimbangkan yaitu polusi air dan “jejak air” dari industri peternakan. Coba kita lihat contohnya. Apabila mayoritas sayur-sayuran hanya memiliki rata-rata “jejak air” sebanyak 332 liter  per kilogram dan sayur-sayuran sebanyak 962 liter, ayam mengonsumsi 4.325 liter air, daging sebanyak 15,415 kilogram, dan untuk memproduksi per liter susu, dibutuhkan 1.020 liter air.

 

 

 

Selain itu, jika kita mengurangi konsumsi daging hewan, kita juga mengurangi kontaminasi air, bahkan air tanah. Mayoritas air yang digunakan untuk produksi produk hewani kembali ke lingkungan dalam bentuk kotoran hewan atau air limbah, yang  mengandung zat zat yang menyebabkan eutrofikasi air, seperti obat-obatan, logam berat dan patogen

 

4) Mengurangi biodiversitas 

 

Sebuah studi yang dipublikasi oleh national Academy of Sciences memperlihatkan bahwa saat ini 70% dari biomassa buru di bumi dipenuhi oleh ayam, angsa, dan lainya serta 60% mamalia terdiri dari hewan ternak dan babi yang dipelihara untuk konsumsi makanan, 36% manusia dan hanya 4% hewan liar. Jumlah yang tidak seimbang inilah di mana hewan ternak hidup di tempat dulunya hewan liar hidup. 

 

 

Dampak dari produksi hewan ternak dirasakan di 23 dari 35 area global dengan konsentrasi keanekaragaman hayati yang tinggi, dalam daftar Konservasi Internasional, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). 

 

Lebih jelasnya: Produksi produk hewani berhubungan secara langsung terhadap hilangnya  keanekaragaman hayati dan margasatwa, seperti kehilangan habitat, penjegalan dan hewan liar yang kelaparan, penangkapan ikan yang berlebih, polusi  terhadap ekosistem, serta dampak buruk lainnya yang mempercepat laju perubahan iklim.

 

“Jika kita tidak menjaga keanekaragaman hayati, kita juga dalam bahaya. Situasi saat ini telah membawa kita pada kondisi keamanan pangan yang berada di ambang kehancuran,” ungkap mantan Direktur FAO, José Graziano da Silva.

 

Apakah kamu juga khawatir terhadap lingkungan? Kamu juga berpikir untuk mengurangi jejak karbon di dunia? Berhenti untuk berpikir bahwa hanya mobil, pabrik, dan pembangkit listrik yang membahayakan lingkungan. 

 

Makanan kita dapat menjadi cara yang efektif dan cepat untuk mengubah dunia dan mendukung sistem yang lebih adil dan berkelanjutan serta tidak menyakiti hewan atau manusia. Pertimbangkan untuk beralih pada pola makan tanpa daging, susu atau telur. Klik disini untuk mempelajari lebih lanjut. 
 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload