Penyalahgunaan antibiotik pada hewan ternak merupakan ancaman yang dapat muncul bagi kesehatan global, ungkap NGO Sinergia Animal

November 18, 2020

 

Setiap November, dari tanggal 18 sampai dengan 24, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merayakan “Minggu Kesadaran Antimikroba Dunia”. Peringatan tersebut bertujuan untuk mengingatkan ancaman serius terhadap kesehatan publik akibat penyalahgunaan antibiotik dan obat antimikroba lainya. Saat ini, kurang lebih 700.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit resistensi obat dan diprediksi jumlah korban tersebut akan mencapai 10 juta kematian setiap tahunnya sampai dengan tahun 2050 jika tidak ada tindakan yang diambil. 

 

“Sistem pangan kita sangat tergantung pada produk hewani, dan industri peternakan merupakan salah satu faktor pendorong terpenting dalam resistensi antimikroba,” ungkap Fadilah, Communications and Corporate Engagement Manager Indonesia dari NGO Internasional, Sinergia Animal. Berdasarkan studi yang dilakukan, Indonesia merupakan salah satu negara yang sudah menunjukkan adanya kasus peningkatan resistensi yang signifikan. 

 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di beberapa negara, 80% konsumsi antibiotik yang penting secara medis ada di sektor peternakan, dimana beberapa laporan memperlihatkan tingginya volume dan penggunaan yang terlalu sering hingga menyebabkan munculnya superbug, - bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang tahan terhadap pengobatan antibiotik tradisional.

 

Hal inilah yang terjadi di industri peternakan, dimana jutaan hewan berdesakan, dan seringnya ditempatkan di ruang tertutup. Berdasarkan Program Lingkungan PBB (UNEP) stress yang terjadi akibat dikurung, buruknya kondisi kebersihan, dan kurangnya variasi genetik diantara hewan-hewan tersebut menciptakan kondisi yang sempurna untuk muncul dan menyerbarnya penyakit baru. “Dalam sistem sistem tersebut, para hewan-hewan tersebut biasanya menerima antibiotik, bukan untuk mengobati penyakit namun untuk mencegah penyakit, dan mendorong pertumbuhan yang lebih cepat bagi mereka. Hewan ini dapat menjadi pembawa bakteri “superbug” yang kemudian dapat menginfeksi manusia,” jelas Fadila

 

Bagaimana superbug muncul di sekitar kita? 

 

Ada beberapa cara penularan superbug ke manusia. Setelah muncul di industri peternakan, mereka dapat mencemari tanah, air, udara, atau makanan kita melalui kotoran hewan dan cairan lainnya. 

 

Superbug dapat melakukan menyebar melalui udara. Sebuah studi dari University of Iowa menemukan bahwa bakteri yang resistensi terhadap antibiotik, yang disebut MRSA, mengambang di udara dua ratus meter mengikutiarah angin dari peternakan babi di Amerika Serikat. Dalam penelitian lain, yang dilakukan oleh John Hopkins University, bakteri yang resisten terhadap antibiotik ditemukan di udara dalam mobil ilmuwan setelah mereka berkendara di belakang truk yang mengangkut ayam dengan dengan jendela terbuka.  

 

Para pekerja dan masyarakat di sekitar industri peternakan dan di sekitar rumah jagal juga sangat terpengaruh. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Center for Emerging Infectious Disease menemukan bahwa para pekerja di peternakan babi enam kali lebih rentan untuk membawa bakteri yang resisten terhadap antibiotik, yaitu multidrug-resistant dan methicillin-resistant (MDRSA). Hal ini terjadi karena mereka bersentuhan langsung dengan daging, darah, kotoran, air liur, dan cairan tubuh lainnya dari hewan ternak. Penduduk di sekitarnya pun dapat terkontaminasi melalui udara dan air yang berasal langsung dari fasilitas tersebut. 

 

Negara berpenghasilan rendah-menengah cenderung memiliki masalah yang lebih banyak 

 

Walaupun Organisasi Kesehatan Dunia telah merekomendasikan pengurangan antimikroba yang penting secara medis pada hewan yang dibesarkan untuk produksi makanan, namun situasi ini kemungkinan akan menjadi lebih kritis di negara-negara berpenghasilan rendah, dimana penggunaan antibiotik cenderung meningkat akibat pertumbuhan produksi produk hewani, dengan perkiraan peningkatan 67% pada tahun 2030. 

 

Sebuah riset di tahun 2019, menemukan sumber berkembangnya resistensi antimikroba di beberapa wilayah di negara-negara bagian bumi selatan. Diantara beberapa sumber tempat tersebut ada di Red River delta di Vietnam dan India bagian Selatan, yang juga dekat dengan Indonesia. Di Indonesia, yaitu Pulau Jawa, pulau dengan populasi tertinggi di negara ini,  juga terlihat titik peningkatan resistensi yang signifikan. 

 

“Perubahan kebijakan diperlukan untuk mengatasi ancaman kesehatan masyarakat ini, dan hal inilah yang melatarbelakangi mengapa kami mendesak pemerintah Indonesia untuk melarang penggunaan antibiotik yang tidak bertanggung jawab dalam industri peternakan,” ungkap Fadila. NGO Sinergia Animal mengundang masyarakat Indonesia melalui petisi online change.org/pandemiindonesia

 

NGO Sinergia Animal juga memberikan solusi lain untuk permasalahan tersebut yaitu : beralih ke pola makan yang berpusat pada sayuran, sebagai cara untuk membatasi permintaan produk hewani yang terus meningkat. NGO tersebut menantang netizen untuk hanya mengonsumsi makanan berbasis nabati, mereka juga menyediakan email harian, tips, resep, dan dukungan oleh ahli gizi secara gratis untuk para peserta tantantangan. Pendaftaran dapat dilakukan di 21hariveg.org

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload