PBB menyerukan “pengawasan global” akibat virus baru yang muncul di rumah jagal babi di Brazil

July 13, 2020

Organisasi Kesehatan Dunia mempublikasikan sebuah imbauan yang memperingatkan adanya dua kasus variasi baru virus influenza A(H1N2) disebut A(H1N2)v, yang memiliki potensi untuk menyebabkan wabah baru, ditemukan di Brazil. Dua pekerja rumah jagal babi di negara bagian selatan Paraná telah terinfeksi namun sudah pulih kembali. 

 

Pasien baru yang terinfeksi pada awalnya mencari pertolongan medis pada tanggal 14 April. Setelah itu, Organisasi Kesehatan Panamerican membagikan sebuah laporan awal pada tanggal 22 Juni, namun baru tanggal 9 Juli, beberapa hari yang lalu, Organisasi kesehatan Dunia (WHO) merilis ancaman tersebut di bagian Berita Wabah Penyakitnya. Dengan berhati-hati, para ahli menemukan individu kedua yang juga bekerja di rumah jagal dan memiliki gejala pernafasan dalam jangka waktu yang bersamaan, yang membuat kasus ini patut dicurigai. 

 

Para ahli masih melakukan investigasi apakah virus ini dapat ditularkan oleh manusia ke manusia, atau hanya oleh hewan ke manusia. “Sampai saat ini, dengan total 26 kasus influenza A(H1N2)v telah dilaporkan kepada WHO sejak tahun 2005, termasuk dua dari Brazil. Mayoritas kasusnya memperlihatkan penyakit sedang dan belum ada bukti adanya penularan manusia ke manusia,” ungkap himbauan yang dirilis oleh WHO. Himbauan tersebut juga mengungkapkan “Identifikasi terhadap adanya setiap kasus tambahan akan memberikan penilaian risiko tentang kemungkinan adanya penularan dari manusia ke manusia.”

 

Saat kita berharap wabah lainya tidak akan terjadi, kita tidak dapat mengabaikan banyak riset yang menghubungkan antara wabah baru dan industri peternakan: 

 

1. Industri peternakan merupakan lahan yang sempurna untuk penyakit baru 

 

Beberapa wabah penyakit yang muncul, termasuk ebola dan AIDS dipercaya terjadi akibat konsumsi produk hewani. Beberapa ahli dan organisasi juga menyakinkan bahwa industri peternakan dapat menjadi sumber dari wabah baru di masa depan. Walaupun belum ada temuan baru-baru ini, namun argumen ini telah mendapatkan daya tarik dalam debat publik di beberapa tahun terakhir, khususnya saat sekarang kita semua menghadapi dampak COVID-19


Beberapa minggu yang lalu, Program Lingkungan PBB (UNEP) meluncurkan sebuah laporan mengenai faktor-faktor seperti intensifikasi agrikultur, peningkatan permintaan protein hewani, deforestasi, dan perubahan iklim dapat memacu pada kemunculan wabah baru yang berasal dari hewan sebelum tersebar ke manusia, seperti virus corona yang baru. 

 

Laporan tersebut menjelaskan bagaimana hewan seperti sapi, babi, dan ayam, sering dibesarkan dalam kondisi yang “tidak ideal” dalam level produksi yang tinggi serta cenderung serupa secara genetik, sehingga sangat rentan mengalami infeksi dibandingkan dalam populasi yang lebih beragam. Lebih parahnya lagi, mayoritas hewan ternak saat ini dibesarkan dalam peternakan pabrikasi, fasilitas yang dirancang untuk mengurung ribuan hewan dalam satu tempat dan tidak memberi ruang untuk adanya jarak fisik antar satu hewan dengan yang lainya. 

 

Di banyak negara berkembang, seperti Indonesia, UNEP menyebutkan bahwa terdapat peningkatan tajam terhadap konsumsi produk hewani, yang membuat produksi daging meningkat sebesar 260% dan telur 340% secara global dalam 50 tahun terakhir. Tidak pula mengagetkan bahwa, menurut laporan tersebut “Sejak tahun 1940, usaha dalam melakukan intensifikasi pertanian dan peternakan seperti, waduk, proyek irigasi, dan peternakan pabrikasi telah dikaitkan dengan lebih dari 25 persen dari semua penyakit–serta lebih dari 50 persen dari penyakit zoonosis–menular yang telah muncul ke manusia.”

 

 

 

2. Rumah jagal menempatkan pekerja dalam resiko yang serius 

 

Bukan sebuah kebetulan, bahwa dua kasus terbaru dari A(H1N2)v di Brazil muncul di rumah jagal. 

 

Pekerja pabrik daging dan industri peternakan merupakan pekerja yang paling terpapar cairan darah hewan peternakan dan kotoran dari yang lainya, karena mereka bertanggung jawab untuk menangani, menjagal, dan menyembelih ratusan juta ayam, babi, sapi, dan ikan setiap harinya. Mereka ada di garis paling depan. Jika cairan tersebut membawa penyakit, para pekerja itulah yang akan terkontaminasi yang paling dahulu, lalu baru menginfeksi orang lain, jika patogen memiliki potensi untuk ditularkan ke orang lain. 

 

Rumah jagal dan peternakan hewan merupakan tempat ideal dari kontaminasi awal dan patogen untuk menyebar. Selama masa wabah Covid-19, rumah jagal di beberapa negara menjadi sumber utama penyebaran virus. Hal ini terjadi karena kondisi yang padat, tidak memungkinkan adanya jarak dalam proses produksi, dan dalam beberapa kasus, betapa panjang dan melelahkannya pekerjaan tersebut. Inilah mengapa kami percaya sebenarnya tidak ada yang mau bekerja di rumah jagal. 

 

3. Virus bermutasi dan ini memiliki potensi yang membahayakan 


Kasus terbaru influenza yang dilaporkan di Brazil merupakan variasi dari virus A(H1N2), menurut WHO, “ karakterisasi genetik dan fenotipik virus dari pasien tersebut dalam proses.” Hal itu memperlihatkan kepada kita bahwa virus selalu berubah, yang diharapkan tidak berbahaya. 

 

 

Beberapa mutasi kemungkinan memiliki dampak yang kecil atau tidak sama sekali, yang lainya kemungkinan malah dapat menghambat virus tersebut. Namun strain yang lebih kuat dan lebih efisien dapat muncul dengan mudah, dan mulai menularkan infeksi dari manusia ke manusia. 

 

Saat ini mayoritas kasus yang terjadi merupakan dampak dari paparan virus influenza babi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi. Walaupun begitu, virus ini dapat berevolusi yang pada akhirnya memiliki kemungkinan untuk menyebar antar manusia. Hal itu juga dapat mengubah variasi yang tidak lagi dapat dicegah dengan vaksin yang saat ini kita miliki. 

 

Untuk mencegah penyakit dan wabah baru yang muncul, sudah seharusnya kita untuk mengubah sistem pangan kita yang telah rusak. Setiap individu harus berkolaborasi untuk mengurangi permintaan produk hewani seperti daging, telur, dan produk susu. Secara kolektif, kita harus meminta pemerintah untuk mengambil tindakan untuk mencegah wabah baru. Klik di sini untuk menandatangani petisi. 

 
 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload