Membongkar Sembilan Mitos sebagai Vegan

October 29, 2020

Jika kamu adalah seorang vegan, atau sedang dalam proses menjadi salah satunya, kamu pasti pernah mendapatkan banyak pertanyaan, stereotip, dan asumsi yang datang dari orang lain terhadap gaya hidup tersebut. Pertanyaan seperti “Apakah kamu nggak lapar? Apakah kamu merasa lemah? Apakah kamu makan salad setiap hari? Yuk kita bongkar mitos-mitos tersebut dan mitos lainya tentang veganisme sekarang! 

 

 

Mitos #1 : Orang hamil tidak boleh vegan 


Banyak vegan yang bertanya-tanya apakah mereka harus melanjutkan pola makan diet ketika mengetahui bahwa mereka vegan, akibat kepercayaan bahwa hal tersebut kurang baik terhadap kesehatan bayi. Faktanya adalah, bahwa wanita yang hamil, terlepas dari apakah mereka mengikuti pola makan vegan atau tidak, memang harus lebih memperhatikan apa yang dimakan selama kehamilan, untuk mendapatkan nutrisi yang cukup, sehingga dapat mendorong perkembangan anak yang tepat selama kehamilan.  

 

Sebuah studi memperlihatkan bahwa pola makan vegan, jika direncanakan dan seimbang, dianggap aman untuk pembentukan janin atau menyusui. Selain itu, sebuah sistematik review dari sembilan studi dari wanita vegan atau vegetarian yang hamil, juga menunjukkan hasil yang sama. 

 

 

 

Mitos #2 Anak-anak tidak dapat tumbuh sehat tanpa makan daging 

 

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa membesarkan anak hanya dengan sayur-mayur, sereal, kacang-kacangan, buah-buahan akan sulit dicerna. Disisi lain, akibat stereotip yang dipasarkan secara besar-besaran melalui iklan, daging dan susu dianggap dapat membantu pertumbuhan anak-anak dan memberikan kekuatan. Selain itu, karena beberapa anak-anak menyukai makanan cepat saji, mereka sering enggan untuk makan sayuran dan lebih memilih hotdog, nugget, dan lainya. 

 

Akibat lebih banyak orang yang menjadi vegan, membuat anak-anak juga mengikuti pola makan tersebut. British Dietetic Association mengatakan bahwa sangat memungkinkan untuk mengikuti pola makan berbasis nabati yang mendukung kehidupan sehat. Pola makan tersebut dapat melengkapi nutrisi, dengan perencanaan yang matang termasuk protein, karbohidrat, dan lemak yang cukup untuk memastikan bahwa anak-anak menerima kalori untuk tumbuh. Selain itu, pola makan vegan memberikan kesempatan bagi keluarga untuk mendidik keluarga dan mengajari anak-anak mengenai nutrisi dan prinsip makanan sehat sejak usia dini, yang dapat lengkap secara nutrisi bahkan memberikan manfaat kesehatan. 

 

 

Mitos #3 : Pola makan vegan tidak memberikan kekuatan yang cukup 

 

Ada miskonsepsi yang cukup umum bahwa daging adalah satu-satunya untuk mendapatkan protein. Padahal tahu, tempe, tanaman polong-polongan, kacang-kacangan, serta biji-bijan juga mengandung protein! Faktanya, para pemain sepak bola hingga atlet angkat besi di Olimpiade, hingga seniman bela diri dan juga pemain tenis terkenal, para atlet profesional banyak yang beralih ke pola makan vegan karena hal tersebut meningkatkan performa mereka.

 

“Pola makan nabati mengubah seluruh hidup saya. Juga mengubah pola hidup yang saya jalani. Ia mengubah segalanya (...). Ada ‘sesuatu’ ketika Anda memakan makanan sehat; membuatmu bangga, dan hal tersebut membuatmu merasa melakukan hal yang benar. Ketika Anda makan makanan yang tidak sehat, ada suatu penyesalan.. Dan itu akan terjadi lambat laun. Hal itu membuat saya merasa senang, ketika saya memakan makanan sehat,” Ungkap Venus Williams di tahun 2017 saat menjalani interview di majalah “Health”. 

 

 

Mitos #4: Vegan selalu makan makanan yang sama, hanya salad dan makanan “kelinci”

 

Mengikuti pola makan berbasis nabati bukan berarti hanya makan salad, namun, malah sebaliknya, ketika kamu makan vegan, banyak berbagai macam kemungkinan makanan baru yang terbuka di depan mata kita. Seorang vegan dapat makan berbagai jenis makanan berbasis nabati, bumbu, rasa, dan juga berbagai warna makanan dengan resep dari berbagai belahan dunia, seperti vegan sushi, tempe Indonesia, dan juga hummus Timur Tengah. 

 

Menjadi vegan bukan berarti membatasi! Dengan meninggalkan produk hewani dan berbagai turunanya, membuat kita menemukan bagaimana cara memasak makanan yang lebih sehat dan beragam.

 

 
Mitos #5 Menjadi vegan adalah sebuah “trend makanan” 

 

Banyak orang yang memandang bahwa menjadi vegan adalah sebuah trend, dan menjadi vegan hanyalah cara untuk terlihat “keren”, namun di beberapa tahun terakhir ini, jumlah restoran, majalah, dan website mengenai veganisme telah berkembang pesat. Banyak orang yang telah sadar akan dampak dari pola makan untuk tubuh mereka dan untuk dunia. 

 

Banyak dari orang-orang tersebut lahir bukan sebagai vegan, namun memilih pola hidup tersebut, khususnya untuk merawat lingkungan, dan hewan serta meningkatkan kesehatan mereka karena produk hewani yang telah banyak dihubungkan dengan banyak penyakit seperti diabetes, stroke, kanker yang hanya beberapa diantaranya. 

 

 

Mitos #6 Manusia hanya dapat mengonsumsi protein dan kalsium dari produk hewani

 

Protein hewani secara tidak langsung datang dari tumbuh-tumbuhan karena hewan pada dasarnya dibesarkan dengan makan-makanan biji-bijian atau rumput. Sehingga daripada memakan produk hewani untuk mendapatkan protein tersebut, kamu dapat secara langsung mendapatkanya dari sumber berbasis nabati, seperti dari kedelai, lentil, buncis, dan kacang polong. Hal yang sama pun berlaku untuk nutrisi seperti kalsium dan zat besi. 

 

Disisi lain, susu sapi tidak sebagus seperti apa yang dipersepsikan. Sebuah studi menyimpulkan bahwa lebih banyak susu yang dikonsumsi oleh remaja, lebih besar pula patah tulang yang dapat mereka alami saat dewasa. Studi lain memperlihatkan bahwa konsumsi produk susu sapi atau hewani, berkaitan dengan kanker prostat dan payudara, dan semakin rentanya terhadap diabetes, serta memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memperpendek jangka hidup akibat meningkatnya stress oksidatif. 

 

Berkaitan dengan kalsium yang dalam makanan, serangkaian studi dari proyek Cornell-China-Oxford untuk Nutrisi, Kesehatan, dan Lingkungan ( yang dikenal dengan China Study) mengaitkan rendahnya kepadatan tulang dan osteoporosis dengan konsumsi pola makan daging. Sebaliknya, vegan bisa mendapatkan sumber kalsium non susu sapi atau hewani dari kacang-kacangan, sayuran, seperti dari brokoli, kangkung, susu kedelai, ataupun us. Contohnya. sebagian besar minuman yang berbahan dasar kedelai mengandung 120mg kalsium per 100mL- hampir sama dengan susu sapi. 

 

 

 

Mitos #7 : Menjadi Vegan itu mahal 

 

Mengonsumsi makanan berbasis nabati bukan berarti membeli makanan instan seperti daging artifisial atau pengganti keju buatan tangan "gourmet" di toko bahan makanan. Jika kita mengikuti pola makan tersebut tentu menjadi vegan dapat sangat mahal. Padahal sebaliknya, jika kita secara sadar merencanakan pola makan kita, kita dapat menyimpan banyak uang dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi pola makan omnviora, karena sayur-sayuran tentu sangat lebih murah dibandingkan dengan produk daging dan susu hewani. Kamu juga bisa membeli buah-buahan musim-musiman di pasar, membeli makanan kering dalam jumlah banyak (seperti nasi, almond, dan smoothies) serta masak sendiri dibandingkan dengan membeli makanan instan atau delivery. Inilah yang membuat pola makan vegan lebih sehat! 

 

 

Mitos #8: Vegan biasanya menderita kekurangan gizi 

 

Setiap orang dengan berbagai pola makan dapat menderita kekurangan gizi. Bukan hanya karena menjadi vegan, seseorang dapat menderita kekurangan gizi langsung. 

 

Yang paling sering dialami adalah kekurangan B12, dan hal tersebut dapat terjadi kepada siapapun, bahkan oleh orang yang mengonsumsi produk hewani, serta seorang vegan juga jika mereka tidak makan suplemen. Sehingga, sangat direkomendasikan untuk orang-orang dengan tingkat B12 yang rendah untuk mengonsumsi suplemen tambahan. 

 

Disisi lain, satu studi dari Universitas Oxford memperlihatkan bahwa seorang vegan memiliki tingkat vitamin B12 yang lebih tinggi di organ mereka dibandingkan dengan orang-orang yang mengonsumsi produk hewani. Secara umum banyak yang beranggapan bahwa vegan tidak mendapatkan protein yang cukup. Padahal faktanya adalah kelebihan protein, zat besi, dan kalsium dari produk hewani adalah kontributor utama dari keroposnya tulang, batu ginjal, dan gagal ginjal. Selain itu, vegan cenderung makan lebih banyak serat yang sangat penting untuk menurunkan kadar gula darah, mencegah penyakit kronis, menurunkan kadar gula darah, mengurangi risiko kanker kolorektal, dan bahkan menurunkan kolesterol.

 

 

Mitos 9 : Vegan akan lapar dan lelah setiap saat 

 

Sementara sayur-sayuran dan biji-bijian mungkin tidak tampak cukup memuaskan bagi orang-orang yang mengonsumsi produk hewani, data ilmiah menunjukkan bahwa sayuran bertepung seperti kentang, labu, lentil, jagung, ubi, dan kacang-kacangan meningkatkan rasa kenyang, dan dikaitkan dengan kesehatan usus yang lebih baik, serta mengurangi rasa lapar, dan menjaga tingkat energi yang stabil bahkan sepanjang hari. Sebaliknya, jika pola makan seimbang  namun tidak diikuti dengan konsumsi vitamin B12 dan zat besi, juga dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, pusing, dan anemia. 

 

Jika kamu terkadang bingung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami dapat membantumu menjawab hal itu semua. Selain itu, dengan mengikuti pola makan berbasis nabati, adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mengubah dunia dan mendukung sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan yang tidak menyakiti hewan atau lingkungan. Pertimbangkan untuk meninggalkan produk daging, susu hewani, dan telur. Klik di sini untuk mengetahui caranya. 


 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload