Resistensi bakteri di Industri peternakan membunuh lebih banyak daripada coronavirus, tegas NGO

February 3, 2020

 

  • Coronavirus dideklarasikan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat oleh Organisasi Kesehatan Dunia

  • Dari semua penyakit manusia, 60% berasal dari hewan 

  • Di tahun 2050, 10 juta orang diperkirakan meninggal akibat resistensi antibiotik 

  • Satu pertiga antibiotik global diberikan ke ternak

Wabah Corona dideklarasikan sebagai sebuah keadaan darurat kesehatan masyarakat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dideskripsikan sebagai sebuah “penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya” dalam konferensi pers yang diadakan tanggal 30 Januari. Namun produksi hewan dan industri konsumsi makanan kemungkinan berada di balik alasan pecahnya wabah penyakit superbug baru di masa yang akan datang. 

 

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia PBB, dari semua penyakit manusia, 60% berasal dari hewan. Saat ini, 700.000 meninggal setiap tahun, akibat infeksi bakteri yang resisten terhadap obat, akibat  penggunaan antibiotik yang berlebihan baik di manusia maupun  hewan. Namun di tahun 2050, Badan Koordinasi Antar-Lembaga PBB mengenai Resistensi Antimikroba mengestimasikan bahwa 10 juta orang akan meninggal setiap tahun karena resistensi terhadap antibiotik. Apabila dibandingkan kasus tersebut dengan kasus epidemi lainya seperti influenza, yang dilaporkan menyebabkan korban tewas kurang lebih 650.000 orang setiap tahunnya, resistensi antibiotik diprediksikan secara signifikan lebih tinggi, sehingga menyebabkan resiko yang lebih tinggi kepada masyarakat, menurut PBB. 

 

Saat ini, 360 orang telah meninggal karena virus corona dan lebih dari 17.000 telah terinfeksi, mayoritas di Cina. Kasus tersebut telah dikonfirmasi di 20 negara, termasuk Kamboja, Hongkong, Malaysia, Filipina, dan Singapura, Thailand, dan Vietnam

Virus tersebut menyebar dengan sangat cepat, dan bukti menunjukkan bahwa wabah tersebut dimulai dari hewan. Di awal minggu ini, peneliti dari Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Cina, lembaga pemerintah untuk kesehatan masyarakat di Cina mengonfirmasi bahwa mereka telah mengisolasi sampel virus corona dari pasar daging di Kota Wuhan, yang mengindikasikan bahwa virus tersebut berasal dari hewan liar yang dijual di pasar. Jenis pasar tersebut sangat populer di kalangan masyarakat Cina yang menjual berbagai jenis daging, termasuk daging yang biasa dikonsumsi seperti daging sapi, daging babi, ayam, dan makanan laut, juga makanan dari daging hewan liar seperti, ular, kura-kura, anak serigala, marmut, tikus, landak, dan yang lainya. 

 

 

 


 

 

 

Melalui kasus yang terjadi saat ini, NGO Internasional Sinergia Animal berusaha untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa disamping penting untuk mengampanyekan anti perdagangan hewan liar, ada permasalahan terkait dengan hewan ternak yang diabaikan oleh konsumen dan pemerintah. "Organisasi Kesehatan Dunia mengingatkan bahwa superbug berasal dari penggunaan antibiotik yang tidak bertanggung jawab yang tingkat kematiannya melebihi  kanker dan penyakit epidemi seperti virus corona dan influenza di masa yang akan datang", ungkap Carolina Galvani Direktur Sinergia Animal Internasional.

 

Sepertiga dari antibiotik global diberikan kepada hewan ternak

 

 

Kurang lebih 75% dari antibiotik yang diproduksi di dunia yang diberikan pada hewan yang dikonsumsi, dan ahli menyatakan bahwa penggunaan  antimikroba akan meningkat sebesar 67% di tahun 2030 dan mencapai 100% di Brazil, Uruguay, Russia, India, Cina, dan Afrika Selatan.

 

Kandungan tersebut digunakan secara luas dalam produksi hewan ternak. Contohnya, di Indonesia, ayam petelur dibesarkan dalam industri peternakan, dengan kepadatan yang tinggi  dan kondisi sanitasi yang buruk. “Jutaan hewan dikurung selama hidupnya dalam industri peternakan dan mendapatkan antibiotik secara terus menerus, meski tidak sakit, untuk mencegah infeksi penyakit, atau hanya sekedar meningkatkan produktivitasnya. Hewan-hewan tersebut menjadi kebal akan antibiotik yang diberikan dengan takaran yang sedikit dalam siklus produksi, dan mengontaminasi rantai makanan dan manusia secara langsung melalui antibiotik superbugs. Ratusan orang meninggal setiap tahunnya akibat resistensi antibiotik, lebih dari sekedar wabah, tapi ada ancaman yang besar kepada masyarakat, dan pemerintah mengenai hal tersebut”, ungkap Carolina.  

 

Foto: We Animals Media

 


Foto: Andrew Skowron


Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal 'Science' September lalu mengungkapkan bahwa resistensi antibiotik di berbagai belahan dunia merupakan sebuah kenyataan.Beberapa daerah utamanya adalah di Cina, delta Red River di Vietnam, dan sekarang muncul di Brazil Selatan, India tengah, dan Cina Selatan. 

 

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa yang terkena dampak utamanya adalah negara-negara selatan, karena  untuk memastikan permintaan daging terpenuhi, produksi produk hewani ditingkatkan. Hal ini dapat menjadikan faktor yang merusak untuk kesehatan masyarakat, akibat sumber daya yang lebih sedikit untuk menanggulangi wabah serta kondisi sanitasi yang buruk. 

 

 

 

Sejak tahun 2006, Uni Eropa melarang penggunaan antibiotik untuk pertumbuhan hewan, namun belum ada langkah yang sama yang dilakukan di Indonesia. “ Kita harus mendapatkan informasi yang lebih baik terhadap apa yang kita makan dan ancaman bahwa industri peternakan mengancam planet. Salah satu yang dapat kita lakukan untuk mencegah hewan untuk dibesarkan dalam kondisi yang tidak wajar dan sehat adalah dengan melakukan diet yang bertanggungjawab dan sehat,” ungkap Carolina Galvani.

 

NGO Sinergia Animal menawarkan sebuah tantangan : untuk melakukan diet berbasis- tumbuhan selama 21 hari. Setiap orang yang yang mendaftar akan menerima email harian yang berisi tentang informasi praktis dan informasi mengenai nutrisi dari ahli nutrisi. 

 


Tentang Sinergia Animal 


Sinergia Animal adalah NGO Internasional di Asia Tenggara dan Amerika Latin untuk menolong hewan dalam industri makanan dan mempromosikan pola makan yang berbelas asih dan berkelanjutan. Organisasi ini diakui sebagai salah satu LSM perlindungan hewan paling efektif di dunia oleh Animal Charity Evaluators (ACE).
 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload