Laporan Greenpeace: 85% Sampah di Sebagian Titik Sampah di Laut adalah Sampah Jaring

December 28, 2019

 

Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh Greenpeace telah menyimpulkan bahwa alat tangkap yang hilang atau sengaja ditinggalkan, adalah salah satu pencemar plastik terbesar di lautan–mewakili hingga 85% dari sampah di dasar laut dan pegunungan dasar laut, serta di Great Pacific Gyre.

 

Angka ini mengonfirmasi hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa jaring ikan merupakan 46% dari sampah yang ditemukan di Great Pacific Garbage Patch, dan sebagian besar sisanya terdiri dari alat tangkap tingkat industri lainnya. Garbage Patch terdiri dari dua massa sampah besar yang terus bertambah besar, yang satu berlokasi di antara Hawaii dan California, sementara yang lainnya membentang dari Jepang ke Kepulauan Hawaii, dan saat ini ukurannya tiga kali wilayah Perancis. Para ilmuwan memperkirakan bahwa sebagian besar sampah ini berasal dari lima negara Asia: Cina, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

 

Secara keseluruhan, 'ghost gear' atau 'jaring hantu' ini diperkirakan menempati 10% dari sampah plastik di lautan kita, dan persentasenya lebih besar lagi untuk plastik ukuran besar yang ditemukan mengambang di permukaan–persentase ini bahkan belum mengikutsertakan jenis lain dari sampah industri perikanan, seperti wadah pengepakan, perekat, dan pelampung.

 

Greenpeace memperkirakan bahwa setiap tahun, lebih dari 640.000 ton jaring, tali pancing, penampung, dan perangkap yang digunakan dalam aktivitas nelayan komersial yang dibuang di laut. Jumlah ini merepresentasikan 6% dari semua jaring yang digunakan, 9% dari semua jebakan, dan 29% dari semua tali pancing panjang (tali pancing yang panjangnya beberapa mil) yang menjadi polusi fisik sampah di laut.

 

 

 

Peralatan ini–yang terbuat dari plastik, semakin banyak digunakan selama beberapa dekade terakhir karena sifatnya yang ringan, mengapung, dan murah. Justru karena sifat-sifat inilah, bahan ini juag sangat berbahaya bagi kehidupan laut: diperlukan waktu berabad-abad untuk bisa diuraikan, dan selama itu benda-benda ini akan tetap berada di dalam air dan menjebak hewan-hewan laut, yang akhirnya terjaring dan mati karena tenggelam atau kelaparan–karena tidak dapat kembali ke permukaan untuk bernafas atau makan. Ini juga merupakan ancaman bagi hewan yang keliru menganggap benda-benda ini sebagai makanan, belum lagi bahayanya terhadap navigasi dan keselamatan di laut.

 

Beberapa hewan yang paling terdampak adalah golongan krustasea (udang-udangan), penyu, burung laut, paus, hiu dan lumba-lumba. Pada tahun 2018 saja misalnya, sekitar 300 penyu ditemukan mati mengambang di perairan Meksiko, setelah terjerat dalam peralatan 'jaring hantu' ini.

 


Ancaman lain: Bycatch atau Tangkapan Sampingan

 

Di samping masalah plastik yang dilemparkan ke laut, industri perikanan memiliki masalah lain: bycatch atau tangkapan sampingan. Industri perikanan umumnya menggunakan jaring apung, suatu teknik yang menggantungkan jaring secara vertikal di dalam air untuk menangkap setiap ikan yang melewati daerah itu. Namun karena keanekaragaman spesies laut, banyak hewan lain akhirnya ditangkap secara tidak sengaja yang disebut bycatch, dan menjadi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap satwa liar, yang sampai berakibat terhadap ancaman kepunahan bagi beberapa spesies.

 

WWF secara konservatif memperkirakan bahwa setidaknya 40%, atau 38 juta ton tangkapan laut tahunan secara global, adalah tangkapan sampingan. Ini mungkin perkiraan yang terlalu rendah, karena dalam statistik ini hanya tersedia informasi mengenai hewan laut besar seperti penyu, mamalia laut, dan burung laut yang juga tertangkap. Menurut mereka, masih ada lebih dari 300.000 paus kecil, lumba-lumba, dan porpoise, yang mati karena terjerat dalam jaring ikan setiap tahun, dan menjadikan bycatch penyebab kematian terbesar bagi mamalia laut kecil.

 

Gambar: Mercy for Animals

 

 

Kita belum memikirkan para ikan sendiri, yang merupakan korban utama industri perikanan! Sebuah laporan dari FAO menunjukkan bahwa pada tahun 2012, ada 91,3 juta ton ikan ditangkap, dan jumlah ini terus menerus bertambah. Namun sangat disayangkan, karena saat ini orang-orang masih memandang ikan dengan sebelah mata, tidak ada statistik yang tepat mencata berapa dari mereka yang tewas, namun diperkirakan triliunan hewan.

 

Ikan adalah hewan yang cerdas dan sensitif, beberapa dari mereka tahu cara membuat alat untuk berburu dan yang lain merawat bayi mereka dengan baik. Ketika dibunuh untuk dimakan, mereka menghadapi kematian yang lambat dan mengerikan: seringkali mereka dibiarkan mati kehabisan nafas ketika dikeluarkan dari air, atau dipotong dan dikuliti saat masih hidup dan sadar.

 

 

 

Menurut laporan Ellen MacArthur Foundation yang diluncurkan di World Economic Forum 2016, akan ada lebih banyak sampah plastik di laut daripada ikan pada tahun 2050. Tentu saja, kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk menghindari hal ini terjadi: berhenti menggunakan plastik sekali pakai seperti sedotan, kantong plastik, dan wadah makanan, adalah awal yang baik. Tetapi kita harus melangkah lebih jauh dan juga menghentikan industri perikanan.

 

Dan tebak apa cara terbaik untuk melakukan itu? Menjadi vegan! Lebih baik untuk kesehatan Anda, untuk para hewan, dan untuk planet ini.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload