Rekaman Mengejutkan Menunjukkan Seekor Anjing Dipukuli hingga Tewas, di Rumah Jagal di Surakarta.

June 30, 2019

Gambar-gambar mengejutkan berisi anjing yang dibunuh di rumah jagal di Solo Raya, Jawa Tengah, memperlihatkan bagaimana hewan-hewan ini dianiaya, kemudian digantung terbalik untuk meniriskan darahnya, semua dilakukan bahkan saat mereka masih sadar. Sementara itu, anjing-anjing yang "menunggu gilirannya" berbaris ketakutan, menyaksikan keseluruhan peristiwa tersebut.

 

 

 

Tonton video investigasi lengkapnya:

 

Ini adalah adegan yang tidak ingin dibayangkan oleh mereka yang mencintai binatang, terlebih lagi untuk dilihat. Semua orang yang memiliki anjing atau kucing, tahu seberapa cerdas dan sensitifnya mereka, dan pasti dapat membayangkan penderitaan yang mereka alami dalam situasi seperti ini.

 

Sebagian besar anjing diambil dari jalanan, atau dicuri dari keluarga yang memilikinya. Setelah itu selama di perjalanan, mereka harus bertahan selama berhari-hari dalam sebuah kandang sempit yang bahkan tidak memungkinkan mereka untuk bergerak, sampai mereka tiba di rumah jagal. Agar mereka tidak menggonggong atau menggigit satu sama lain, moncong mereka diikat sekencang-kencangnya hingga menyulitkan mereka untuk bernapas. Jangan lupakan para ibu yang dipisahkan dengan anak-anak anjingnya.

 

 

 

 

 

Video-video ini diambil oleh Dog Meat-Free Indonesia (DMFI), sebuah organisasi yang memimpin kampanye pembebasan Indonesia dari perdagangan daging anjing, dan secara cepat menjadi berita di seluruh dunia. Lebih dari 13,000 anjing disembelih setiap bulannya di Solo Raya, seiring dengan tingginya permintaan untuk daging anjing, dan 82 restoran yang secara terbuka menawarkannya.

 

Terlepas dari itu, DMFI yang digerakkan oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animal Friends Jogja (AFJ), dan LSM lainnya, menyatakan meskipun hanya 7% dari masyarakat yang pernah mengkonsumsinya, namun perdagangan daging anjing mengancam kesehatan dan keselamatan seluruh bangsa.

 

 

Kebiasaan makan telah berubah!

 

Praktik ini masih akan terus terjadi sampai bertahun-tahun, bahkan berdekade-dekade ke depan, apabila orang-orang tidak menilik kembali kebiasaan makan mereka. Hal yang sama juga bisa dikatakan tentang hewan-hewan lainnya, seperti ikan, domba, babi, dan juga sapi. Mereka juga hewan yang sangat sensitif dan cerdas, dan jangan lupakan masalah lingkungan serius yang menyertai dalam proses produksinya.

 

Kebiasaan makan kita adalah ciri budaya, dan seperti seharusnya, budaya seharusnya dapat beradaptasi dan bertransformasi secara konstan.

 

Untuk membuktikan apa yang kami katakan, simak berita biak ini: Pada 24 Juni, Kabupaten Karanganyar (Surakarta, Jawa Tengah) mengumumkan bahwa pemerintah akan menutup semua tempat yang menjual daging anjing, dan menjadi daerah pertama di Indonesia yang melarang perdagangan daging anjing. Ini merepresentasikan angka kurang lebih 1,900 anjing yang terselamatkan setiap bulannya, dan sebuah teladan penting untuk dicontoh oleh daerah lainnya.

 

Perubahan lain yang mencolok di beberapa tahun terakhir, adalah semakin banyaknya orang yang berupaya untuk menjadi reducetarian, flexitarian, vegetarian dan vegan. Ini berarti mereka tidak lagi mengkonsumsi produk hewani, atau setidaknya mengurangi konsumsinya.

 

Kita semua dapat memilih untuk mengadopsi pola makan yang lebih berwelas asih, ketika ada argumen baru yang disajikan. Di antara alasan-alasan tersebut, kita dapat menggarisbawahi fakta bahwa hewan memiliki hak dan juga keinginan untuk hidup, serta dampak negatif lingkungan dan sosial yang dihasilkan oleh peternakan hewan, yang tidak dapat dikembalikan.

 

Mari bergabung bersama kami, menjadi relawan untuk membantu kami melindungi hewan ternak di Indonesia.

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload