Pernahkah Anda Melihat Gambar Sapi yang Berlubang di Perutnya? Kami akan Menjelaskannya!

July 16, 2019

Sapi dengan tabung Fistula, sebuah praktik yang umum terjadi

 

Gambar sapi dengan perut berlubang ini terlihat seperti hal yang ada di karya fiksi ilmiah atau berita bohong, tetapi ini adalah hal yang nyata, dan sedihnya, adalah sebuah praktik yang lebih umum dari yang kita kira.

 

LSM perlindungan hewan Perancis, L214, baru-baru ini menerbitkan hasil penyerlidikan yang menunjukkan eksploitasi sapi oleh industri susu, dengan menggunakan apa yang disebut ‘fistula’. Ini adalah cincin plastik selebar 15-20 centimeter, yang dimasukkan ke lubang yang dibuat untuk menghubungkan lambung agar dapat diakses dari luar. Ini adalah teknik yang invasif dan menyakitkan, yang ditujukan untuk meneliti pencernaan hewan dan bagaimana jenis makanan yang berbeda dicerna di dalam lambung. Semua ini dilakukan, semata demi peningkatan produktivitas dan laba.

 

Video yang diambil, menunjukkan para pekerja yang menarik paksa kanula, dan memasukkan hampir keseluruhan bagian lengannya ke dalam lambung sapi tersebut. Dalam adegan yang lebih jelas, kita dapat melihat bahwa ada cairan yang bocor dari lubang tersebut. Dalam beberapa kasus, fistula tidak cocok dengan tubuh hewannya, yang menimbulkan luka terbuka.

 

Selain itu, sapi-sapi ini ditemukan di lokasi yang tertutup, kandang yang sangat kecil di mana mereka hanya bisa berdiri. Mereka menghabskan 10 dari 12 bulan dalam setahun di dalam ruangan tertutup, lantai semen, tanpa rasa nyaman, dan dikelilingi oleh kotoran mereka sendiri.

 

Sementara itu, anak-anak mereka dipisahkan, dalam sel-sel kecil yang berjarak, kehilangan kontak dengan ibu mereka. Mereka diberi makan produk larutan, melalui selang.

 

 

 

Bisa dilihat:

 

 

Sapi fistulasi bukanlah kasus yang khusus

 

 

Kasus ini terjadi di sebuah properti milik perusahaan Sanders, yang terkait dengan kelompok agroindustri Avril, salah satu yang terbesar di Perancis. Di lahan spesifik ini, 220 sapi perah dipekerjakan untuk memenuhi “gol” produksi 1,2 juta liter susu per tahun. Di samping penggunaan fistula, seleksi dan manipulasi genetik membuat masing-masing dari mereka menghasilkan sampai tiga kali lipat jumlah susu yang diperlukan untuk memberi makan anak sapi mereka sendiri.

 

Sayangnya, kasus sapi fistulasi tidak terbatas terjadi hanya di perusahaan ini atau di Perancis. Ini adalah praktik standar dalam industri peternakan sapi, dan juga dilakukan di beberapa lokasi lainnya di seluruh dunia, baik untuk produksi susu maupun daging.

 

 

Lebih dari sekadar fistula

 

Bukan sebuah hal yang baru bahwa industri daging dan susu tidak mempertimbangkan konsekuensi apapun ketika berbicara tentang cara menaikkan keuntungan — terutama ketika hal tersebut menyangkut kesejahteraan hewan.

 

Dengan atau tanpa fistula, produksi susu adalah praktik yang sangat kejam terhadap hewan. Sapi dibuahi terus menerus dan selalu hamil. Bagaimanapun, seperti mamalia apapun, susu hanya bisa didapatkan dengan memiliki bayi.

 

Ketika anak-anak sapi ini lahir, mereka hanya akan menghabiskan beberapa hari dengan ibunya, karena jika mereka meminum ASI-nya, produksinya akan berkurang. Di beberapa negara, anak sapi jantan dikurung di dalam kandang kecil di mana mereka hampir tidak bisa bergerak sampai hari mereka disembelih. Dengan usia hidup yang hanya beberapa minggu, mereka akan dijual sebagai daging sapi muda. Sementara itu, anak sapi betina seringkali dirantai dan dipisahkan terisolasi selama empat sampai enam bulan pertama hidupnya, dan dibesarkan sebagai sapi perah seperti ibunya, dan mulai diinseminasi sejak umur mereka hanya sedikit lebih dari setahun.

 

 

 

Sementara itu, para ibu berduka karena tidak dapat merawat bayi mereka. Sapi adalah hewan yang cerdas dan mudah bergaul, serta memiliki hubungan yang erat dan penuh kasih sayang dengan anak-anaknya. Ada berbagai laporan tentang ibu sapi yang menangis beralam-malam, menderita karena dijauhkan dengan bayinya. Beberapa video, seperti yang ada di bawah ini, menunjukkan apa saja yang mampu mereka lakukan untuk melindungi bayi-bayinya:

 

 

Sapi diperah terus-menerus dengan mesin, yang berakibat mayoritas sapi menderita mastitis parah, infeksi menyakitkan pada kelenjar susu, yang dapat berkembang dan menyebabkan nekrosis payudara.

 

Dalam kondisi alami, sapi dapat hidup hingga 20 tahun. Namun, sapi yang diskeploitasi oleh industri susu hanya dapat hidup empat hingga lima tahun. Pada akhir hidup mereka yang singkat, ketika tubuh mereka kelelahan karena kehamilan terus-menerus, mereka tidak lagi menghasilkan cukup susu untuk menghasilkan keuntungkan, dan akan disembelih untuk dagingnya.

 

Sebagian besar susu untuk produk olahan susu yang dijual di Indonesia, diimpor dari Australia dan Selandia Baru. Sayangnya, investigasi yang dilakukan oleh organisasi perlindungan hewan menunjukkan tindak kekerasan yang dilakukan terhadap anak sapi jantan di Selandia Baru. Lihat sendiri videonya di sini:

 

 

Lalu sekarang, apa yang bisa saya lakukan?

 

Setelah mengetahui bagaimana sapi diperlakukan dalam industru susu, membuat Anda merasa hewan layak mendapatkan sesuatu yang lebih dari kita? Kami tahu bagaimana perasaan Anda. Perubahan tampak seperti sesuatu yang masih sangat jauh, tapi kenyataannya yang kita perlukan untuk melakukan sesuatu, hanya ada di tangan kita sendiri (atau lebih tepatnya, di piring kita!)

 

Perubahan sederhana dalam kebiasaan makan kita, dapat menghindarkan sapi perah dari kondisi seperti di atas. Jika Anda mencintai hewan, pertimbangkanlah untuk mengurangi konsumsi produk hewan seperti daging, makanan laut, susu dan telur — atau, lebih baik lagi, menghentikan semuanya!

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload