Gletser di Islandia Hilang Begitu Saja akibat Pemanasan Global

September 23, 2019

Islandia baru saja kehilangan gletser pertamanya, sebongkah es yang tebal yang terbentuk oleh akumulasi salju selama bertahun-tahun, berabad-abad, akibat pemanasan global. Gletser Okjökull diyakini berusia sekitar 700 tahun, dan saat ini, ia benar-benar meleleh: pada tahun 1890, esnya mencakup 16 km persegi tetapi pada 2012, terukur hanya tersia 0,7 km persegi.

 

Penyusutan gletser Okjökull dari 14 September 1986 (kiri) menjadi (kanan) pada 1 Agustus 2019. Foto: NASA

 

 

Berita ini sangat mengkhawatirkan, sampai-sampai ada sekitar 100 orang yang berjalan ke atas gunung tersebut untuk “berkabung” atas melelehnya gletser ini. Di antara orang-orang tersebut, ada perdana menteri Islandia, Katrín Jakobsdóttir, dan mantan komisioner PBB di bidang HAM, Mary Robinson. Perubahan iklim memang menjadi perhatian utama PBB saat ini. Para spesialis PBB telah memperingatkan bahwa pemanasan global mungkin akan menghapus hak asasi manusia, menciptakan “apartheid iklim”. Inilah sebabnya mengapa PBB mengatakan diet nabati sangat diperlukan untuk memerangi perubahan iklim.

 

Islandia merupakan negara yang akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim, karena para ahli memperkirakan bahwa jika kita tidak mengurangi kadar emisi, 400-lebih gletser di pulau tersebut, yang mencakup sekitar 11% dari permukaan negara Islandia, akan hilang pada tahun 2200. Namun secara keseluruhan, semua es di Bumi telah menghilang lima kali lebih cepat dibandingkan pada tahun 1960-an.

 

 

Ini adalah masalah kita semua

 

Sebuah studi yang diterbitkan di Nature memperkirakan antara tahun 1961 dan 2016, lebih dari 10 triliun ton gletser telah hilang. Jumlah ini cukup untuk menutupi seluruh benua AS (tidak termasuk Alaska dan Hawaii) dengan salju setebal empat kaki (1,2 meter). Penelitian lain menunjukkan bahwa 90% gletser Alpen akan lenyap pada tahun 2100.

 

Bahkan jika Anda tidak tinggal di daerah ini, masalah ini tetap mempengaruhi Anda. Es yang mencair bertanggung jawab atas sekitar 25% hingga 30% dari kenaikan permukaan laut. Di Antartika, sebuah studi yang didanai NASA menemukan bahwa hampir tidak mungkin untuk menghentikan gletser Thwaites mengalir ke laut, dan menambah kenaikan permukaan laut setinggi 50cm. Dan ini bahkan bukan satu-satunya gletser yang berisiko mencair di benua itu.

 

 

Dengan meningkatnya permukaan laut, kehidupan di kota-kota pesisir di seluruh dunia akan terancam, dan lebih banyak lagi orang berisiko terkena banjir yang datang dengan badai. Pada tahun 2100, 1 dari setiap 5 orang di dunia kemungkinan terpaksa pindah dari rumah mereka ke dataran lain karena naiknya permukaan laut.

 

Selain kenaikan permukaan laut, efek samping lain dari gletser yang mencair adalah ketidakstabilan ketersediaan air tawar untuk irigasi dan penggunaan domestik. Ketersediaan pangan akan menjadi lebih langka, harga grosir akan melonjak dan tanaman akan kehilangan nilai gizi mereka; bersama dengan ancaman terhadap satwa liar.

 

Pemanasan global juga akan membuat planet ini terpanggang, pada suhu yang belum pernah tercatat. Juni 2019 dianggap sebagai bulan terpanas yang pernah tercatat di Bumi, menurut European Satellite Agency, dengan suhu yang lebih dari 2°C di atas normal.

 

Tidak diragukan lagi bahwa ini semua disebabkan oleh aktivitas manusia, dan malapetaka ini seharusnya bersuara sebagai seruan pengurangan ada emisi gas rumah kaca, yang menyebabkan pemanasan global.

 

Ada hal paling sederhana yang masing-masing dari kita dapat lakukan untuk planet ini setiap harinya: mengubah kebiasaan makan kita, serta menyingkirkan daging, susu, dan telur.

 

Peternakan berkontribusi sekitar 14,5% hingga 18% dari semua emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization atau FAO) , daging sapi bertanggung jawab atas 41% emisi dari sektor ini, sementara produksi susu mewakili 20% dari keseluruhan angka tersebut.

 

 

 

Faktanya: hewan ternak bertanggung jawab atas lebih banyak gas rumah kaca, dibandingkan dengan gabungan seluruh emisi alat transportasi di dunia! Namun perhatikan fakta ini: di tahun 2016, hanya JBS, Cargill, dan Tyson, tiga dari perusahaan daging terbesar di dunia, yang dinilai bertanggung jawab untuk emisi gas rumah kaca yang besarnya lebih dari keseluruhan yang dihasilkan Perancis. Jika digabungkan, lima perusahaan daging terbesar bertanggung jawab atas lebih banyak polusi dari yang dihasilkan perusahaan-perusahaan minyak terbesar, seperti Exxon, Shell, dan BP.

 

NASA mengatakan bahwa, bahkan jika kita berhenti memproduksi emisi gas rumah kaca hari ini, pemanasan global masih akan terus berlangsung setidaknya beberapa dekade lagi, atau bahkan berabad-abad.

 

Di sisi lain, kabar baiknya adalah belum terlambat untuk menghindari atau membatasi efek-efek terburuk dari perubahan iklim! Namun, usaha ini membutuhkan koordinasi dan keterlibatan umum dari kita semua! Tolong kurangi konsumsi produk hewani Anda termasuk semua jenis daging, susu, dan telur, atau pertimbangkan veganisme! Bantu kami menyebarluaskan kesadaran ini pada masyarakat, dengan cara bergabung dalam komunitas sukarelawan kami.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload