Pakar PBB: Pemanasan Global Dapat Meniadakan Akses pada Hak Dasar Manusia

August 4, 2019

Photo by Ninno Jack Jr on Unsplash

 

 

Krisis iklim yang semakin parah, bisa jadi membahayakan hak asasi manusia, menciptakan "apartheid iklim", menurut laporan dari pakar hak asasi manusia Philip Alston. "Hak dasar manusia mungkin tidak selamat dari gejolak yang akan datang", katanya.

 

Situasi ini terjadi sebagai akibat dari meningkatnya ketimpangan antar negara dan kelas sosial. Populasi yang paling miskinlah yang akan terkena dampak paling besar. Sementara itu, orang-orang kaya akan mampu membayar harga makanan yang lebih tinggi dan melarikan diri dari cuaca panas dan konflik. Ya, perebutan sumber daya alam kemungkinan akan memicu perang.

 

Meskipun separuh populasi miskin dunia hanya menyumbang 10% dari total emisi karbon dioksida, kenyataannya mereka harus menanggung sekitar 75% dari kerugian krisis iklim. “Kemajuan pembangunan, kesehatan global, serta pengurangan kemiskinan yang telah dicapai dalam 50 tahun terakhir terancam terhambat bahkan mundur karena perubahan iklim.” kata Alston.

 

Mulai dari konsekuensi yang paling terlihat jelas, seperti rengekan pemenuhan hak-hak dasar atas air, makanan dan perumahan, ke hal-hal lain yang (sejauh ini) masih belum terlihat, seperti ancaman terhadap demokrasi dan hak-hak sipil dan politik.

 

Masalah ini ditambah lagi dengan kerugian material, dan setiap kali ada gelombang migrasi yang besar, akan timbul respons nasionalis, xenophobia, rasisme dan lainnya, serta memperburuk keamanan negara yang sudah ada, terutama di belahan bumi bagian selatan. "Mempertahankan pendekatan yang seimbang terhadap hak-hak sipil dan politik akan sangat sulit", ujarnya.

 

 Photo by Jordan Rowland on Unsplash

 

 

Temui para pengungsi korban perubahan iklim

 

Afrika akan mengalami dampak besar dari perubahan iklim, dan situasinya bahkan lebih genting lagi mengingat kemampuan adaptasi geografisnya yang rendah. Pulau-pulau kecil yang berpenghuni, kemungkinan akan lenyap karena badai yang semakin dahsyat dan permukaan laut yang semakin tinggi. Delta besar di antara Asia dan Afrika yang padat penduduk, akan rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

 

Diperkirakan bahwa jumlah migran akibat kondisi lingkungan akan berkisar 25 juta hingga 1 miliar pada tahun 2050. Orang-orang ini akan dipaksa untuk pindah ke tempat lain karena kekeringan, kenaikan permukaan laut, dan degradasi tanah, dan perubahan lingkungan yang terlalu cepat, seperti topan tropis, serta hujan lebat dan banjir. Semua masalah ini akan semakin parah karena pemanasan global. Akan ada dampak serius terhadap ketahanan pangan serta akses air bersih.

 

 Photo by Isaiah Rustad on Unsplash

 

 

Mari kita ambil salah satu rute migrasi paling mengkhawatirkan saat ini, yakni dari Meksiko ke Amerika Serikat. Kami yakin Anda telah mendengar berita-berita tidak mengenakkan tentang anak-anak yang tanpa belas kasihan dipisahkan dari orang tua mereka di perbatasan AS, serta orang tua yang dideportasi tanpa anak-anak mereka.

 

Negara-negara sumber pencari suaka terbesar yang melintasi perbatasan AS dalam beberapa tahun terakhir yakni Guatemala, El Salvador dan Honduras, sangat terpengaruh oleh degradasi lingkungan dan terdampak perubahan iklim global, karena suhu rata-rata di Amerika Tengah telah meningkat sebesar 0,5C sejak 1950 - dan diproyeksikan akan naik 1-2 derajat lagi sebelum 2050.

 

Di Honduras, curah hujan sangat jarang di daerah-daerah yang membutuhkannya, namun di daerah lain, bencana banjir meningkat 60%. Di Guatemala, daerah gersang akan meluas semakin jauh ke daerah yang saat ini masih merupakan daerah pertanian, membuat para petani kehilangan mata pencahariannya. El Salvador diproyeksikan akan kehilangan 10-28% dari garis pantainya sebelum akhir abad ini.

 

Jika sekarang saja migrasi merupakan situasi yang sangat sulit, bisa Anda bayangkan jika skenario di atas terjadi?

 

 

Tapi, apa yang sebenarnya menyebabkan semua ini?

 

Berikut adalah kenyataan yang sulit untuk diterima: ternak mewakili sekitar 14,5% hingga 18% dari semua emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), daging sapi bertanggung jawab atas 41% dari emisi sektor ini, sementara produksi susu mewakili 20%. Semuanya berkontribusi: mulai dari produksi makanan untuk hewan, proses pencernaan ruminansia, dan bahkan penyimpanan dan pengolahan kotoran.

 

Photo by Amy Watt on Unsplash

 

 

Gambaran besarnya, ternak bertanggung jawab atas lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada gabungan seluruh emisi transportasi di dunia! Ini mengejutkan, kita selalu hanya berpikir untuk berhenti menggunakan bahan bakar fosil untuk mengurangi jejak karbon, bukan?

 

Namun perhatikan fakta ini: di tahun 2016, hanya JBS, Cargill, dan Tyson, tiga dari perusahaan daging terbesar di dunia, yang dinilai bertanggung jawab untuk emisi gas rumah kaca yang besarnya lebih dari keseluruhan yang dihasilkan Perancis. Jika digabungkan, lima perusahaan daging terbesar bertanggung jawab atas lebih banyak polusi dari yang dihasilkan perusahaan-perusahaan minyak terbesar, seperti Exxon, Shell, dan BP.

 

Kita benar-benar mempertaruhkan ketahanan pangan seluruh planet, hanya demi produk seperti daging, yang hanya dapat diakses oleh sebagian kecil orang.

 

Di Indonesia, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 7 dari 10 bencana pada tahun 2019 berhubungan langsung dengan Perubahan Iklim.

 

Dari Maret hingga April 2019, hujan lebat yang mengguyur Bengkulu, Sulawesi Tengah, dan Papua mengakibatkan banjir dan tanah longsor ke daerah pemukiman. Setidaknya 119 orang terbunuh, 83 orang hilang, dan ribuan lainnya terpaksa menjadi pengungsi.

 

Kita hampir selalu bicara mengenai hewan di sini, namun saat ini kami mengharapkan Anda mau mengambil sikap terhadap peternakan hewan, dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang-orang di sekitar Anda, kami, dan bahkan Anda sendiri. Para lansia, anak-anak, seluruh keluarga-keluarga yang akan terdampak. Kita dapat menghindarkan mereka semua dari penderitaan, kelaparan, dan kekerasan, hanya dengan melakukan perubahan sederhana pada diet kita: menyisihkan daging, susu, dan telur, atau setidaknya mengurangi konsumsi Anda.

 

Bantu kami menyebarkan pesan ini dengan bergabung bersama grup sukarelawan kami!

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload