Mengkonsumsi Tiga Telur per Minggu Meningkatkan Resiko Penyakit Kardiovaskular

July 29, 2019

Photo by Emir Krasnić on Pixabay

 

Mengkonsumsi tiga telur per minggu meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian, menurut sebuah penelitian baru yang diterbitkan di Journal of American Medical Association. Telur mengandung 180 miligram kolesterol, yang menempatkannya sebagai sumber utama kolesterol pada makanan.

 

Studi ini menganalisis 29.615 orang dewasa di Amerika Serikat selama sekitar 18 tahun. Setiap 300 miligram kolesterol yang dikonsumsi per hari, secara signifikan dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terjadinya masalah kardiovaskular - dan kami belum mempertimbangkan bahwa produk lain, terutama daging, juga mengandung kolesterol.

 

 

Jangan berpikir bahwa bahaya hanya ada di daging merah. Baru-baru ini, kami telah menyampaikan tentang penelitian lain yang menemukan bahwa daging merah dan putih sama-sama buruk untuk kolesterol jika dibandingkan dengan diet nabati.

 

Setelah semua temuan ini, para ilmuwan menyarankan untuk membatasi konsumsi produk hewani, untuk menurunkan kadar kolesterol darah. Sebagai alternatif yang sehat, kita harus makan lebih banyak sayur dan tanaman lainnya. Protein nabati dan lemak tak jenuh seperti yang ditemukan dalam kacang-kacangan, telah lama dikaitkan dengan jantung yang lebih sehat.

 

 

Kolesterol bukan satu-satunya ancaman

 

Secara keseluruhan, telur dapat terkontaminasi salmonella, bakteri yang telah menjangkit banyak orang di seluruh dunia dan bahkan dapat menyebabkan kematian, terutama anak-anak. Ini adalah masalah yang sangat serius di peternakan dengan sistem kandang baterai. Di sana, risiko kontaminasi Salmonella 43% lebih tinggi jika dibandingkan dengan sistem di mana ayam ditempatkan di lumbung tertutup, serta 98% lebih tinggi dibandingkan ayam yang dipelihara secara bebas (free-range), menurut European Authority for Food Security.

 

Untuk mencegah penyakit, industri telur biasanya menggunakan antibiotik terus menerus, bahkan saat ayam tidak sakit. Penelitian lain menunjukkan bahwa 60% dari susu hewan yang diuji di AS mengandung pestisida dan antibiotik.

 

Menurut PBB, resistensi antibiotik adalah salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan global, keamanan pangan, dan pembangunan saat ini, dan secara langsung berkaitan dengan penggunaan obat-obatan ini secara tidak bertanggung jawab, baik dalam pengobatan manusia maupun dalam produksi ternak.

 

Meskipun di sebagian besar negara kontrol terhadap penggunaan produk-produk ini masih kurang ketat, PBB memperkirakan bahwa pada tahun 2010 saja, ada 63.151 ton antibiotik yang digunakan hanya untuk peternakan hewan saja. Di beberapa negara, sekitar 80% dari total konsumsi antibiotik penting secara medis ada di sektor hewan, sebagian besar untuk meningkatkan pertumbuhan pada hewan yang sehat. Ini diperkirakan akan menjadi lebih buruk: dua pertiga dari pertumbuhan penggunaan antibiotik di masa depan akan digunakan dalam sektor produksi hewan, dengan penggunaan dalam produksi babi dan unggas diprediksi meningkat dua kali lipat.

 

Sebuah studi menyatakan bahwa infeksi penyakit baru yang resisten terhadap antibiotik diperkirakan akan melonjak dan membunuh 10 juta orang tambahan per tahun di seluruh dunia per tahun 2050, lebih banyak daripada yang saat ini meninggal akibat kanker, kecuali jika ada tindakan yang diambil.

 

 

Cara kerja industri telur

 

Dalam peternakan semacam ini, penyakit dapat menyebar dengan cepat hanya dalam kondisi sanitasi yang buruk dan penuh sesak. Dalam kasus ayam petelur, mereka biasanya menghabiskan seluruh hidup mereka di dalam kandang dengan ayam-ayam lain, dalam kondisi di mana mereka bahkan tidak dapat membuka sayap mereka sepenuhnya, apalagi berjalan-jalan atau mengekspresikan perilaku natural mereka sebagai spesies unggas. Kontak terus-menerus dengan kawat kandang, membuat mereka kehilangan bulu-bulunya dan mengalami luka yang serius dan menyakitkan.

 

Banyak dari mereka mati di kandang dan dibiarkan hingga membusuk, di antara yang lain yang masih hidup. Ayam-ayam yang selamat, dipaksa untuk tinggal di tempat yang kotor sampai produktivitasnya menurun, kemudian dikirim ke pembantaian, ketika mereka hanya berusia dua tahun.

 

Sistem ini dianggap sangat kejam sehingga dilarang di Uni Eropa, Selandia Baru, dan banyak negara bagian di AS. Namun sayangnya ini masih merupakan kenyataan dari kehidupan lebih dari 80% ayam yang dipekerjakan untuk menghasilkan telur di Indonesia.

 

Jika Anda tidak ingin mengambil resiko terhadap kesehatan Anda dan juga publik, sekaligus peduli terhadap hewan, silakan pertimbangkan mengurangi konsumsi produk hewani atau menjadi vegan. Bergabunglah dengan tim sukarelawan kami!

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload