Juni 2019 adalah Bulan Terpanas yang Pernah Ada, Hal Ini Terkait dengan Apa yang Kita Makan

July 7, 2019

Dengan temperatur 2°C di atas normal, Juni 2019 didaulat sebagai bulan terpanas sepanjang sejarah, menurut The European Satelite Agency. Sebagian besar Perancis, Jerman, dan Spanyol bagian utara mengalami kenaikan suhu sampai 6-10°C di atas normal. Secara keseluruhan, temperatur planet secara global tidak pernah lebih tinggi dari ini sebelumnya.

 

Para ilmuwan mengatakan bahwa pemanasan global membuat hawa panas yang menerjang banyak negara di Eropa beberapa hari ini 5 sampai 100 kali lebih mungkin terjadi. Fakta ini cukup untuk membuat kita khawatir, namun sayangnya, kita memilih untuk tidak memperhatikannya sejak awal.

 

 Photo by Markus Spiske on Unsplash

 

 

Perubahan iklim pertama kali menjadi perhatian pada tahun 1988, dibawa oleh fisikawan Nasa James Hansen, yang membahasnya pada KTT Bumi, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan yang berlangsung di Rio de Janeiro pada tahun 1992.

 

Namun, orang-orang baru memperhatikan efek luar biasa destruktif dari perubahan iklim beberapa tahun terakhir, dan dengan cepat topik ini menjadi salah satu yang paling banyak dibahas di seluruh dunia. Meskipun ada beberapa bantahan, para ilmuwan telah mencapai kesepakatan bahwa pemanasan global itu nyata, dan disebabkan oleh manusia. 97% atau lebih ilmuwan iklim yang masih secara aktif menerbitkan publikasi, menyatakan setuju.

 

 

 

Perubahan iklim datang dengan segala konsekuensinya: tentu saja, temperatur global yang meningkat, namun jangan lupakan laut yang memanas, lempengan es yang menyusut, mencairnya gletser dan menipisnya lapisan salju, kenaikan permukaan laut, pengasaman samudera dan peristiwa ekstrim lainnya seperti hawa panas dan kekeringan, sementara daerah lainnya mengalami pengendapan ekstrim dan juga banjir.

 

 Photo by Roxanne Desgagnés on Unsplash

 

Namun, apa yang sebenarnya menyebabkan semua ini?

 

Sebuah kenyataan yang pahit untuk ditelan: hewan ternak mewakili sekitar 14,5% hingga 18% dari semua emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization atau FAO), daging sapi bertanggung jawab atas 41% emisi dari sektor ini, sementara produksi susu mewakili 20% dari keseluruhan angka tersebut. Semua tahap berkontribusi: mulai dari produksi makanan untuk hewan ternak, gas hasil pencernaan ruminansia, dan bahkan penyimpanan serta pemrosesan kotoran hewan.

 

 Photo by Juliana Amorim on Unsplash

 

 

Faktanya: hewan ternak bertanggung jawab atas lebih banyak gas rumah kaca, dibandingkan dengan gabungan seluruh emisi alat transportasi di dunia! Ini menggelitik, karena jika bicara mengenai pengurangan jejak karbon, kita akan langsung berpikir tentang menghentikan penggunaan BBM, benar kan?

 

Namun perhatikan fakta ini: di tahun 2016, hanya JBS, Cargill, dan Tyson, tiga dari perusahaan daging terbesar di dunia, yang dinilai bertanggung jawab untuk emisi gas rumah kaca yang besarnya lebih dari keseluruhan yang dihasilkan Perancis. Jika digabungkan, lima perusahaan daging terbesar bertanggung jawab atas lebih banyak polusi dari yang dihasilkan perusahaan-perusahaan minyak terbesar, seperti Exxon, Shell, dan BP.

 

Dampak lingkungan lainnya

 

Jangan lupakan dampak penting lainnya yang terjadi akibat peternakan hewan. Contohnya, apakah kamu tahu bahwa lebih dari 75% area yang digunakan untuk lahan pangan (yang luasnya setara dengan gabungan Amerika, China, Uni Eropa, dan Australia) digunakan untuk memproduksi daging dan susu? Sebagian besar lahan ini awalnya adalah hutan adat, yang pada akhirnya mengalami deforestasi demi kepentingan komersial.

 

Ini menjadi semakin parah ketika kita mempertimbangkan fakta bahwa produk-produk ini hanya menyumbang 18% kalori dan 37% protein yang kita makan. Hasil yang tidak seberapa dari penggunaan sumber daya alam yang gila-gilaan!

 

Menurut PBB, lebih dari 70% air bersih di seluruh dunia digunakan untuk proses peternakan. Mempertimbangkan fakta bahwa mayoritas biji-bijian digunakan sebagai pakan ternak, bisa dikatakan bahwa hewan ternak menghabiskan sangat banyak simpanan air bersih.

 

Apakah ada jalan keluar?

 

NASA mengatakan bahwa bahkan jika kita berhenti memproduksi gas rumah kaca hari ini, pemanasan global masih akan berlanjut selama beberapa dekade ke depan, atau bahkan sampai berabad-abad.

 

Namun berita baiknya, masih belum terlambat untuk kita menghindari atau membatasi terjadinya dampak-dampak paling mengerikan dari perubahan iklim. Namun, ini membutuhkan gerakan yang terkoordinasi, dan keikutsertaan aktif dari kita semua.

 

 

 

Yang pertama, penting sekali untuk merumuskan undang-undang dari semua sektor pemerintahan, serta usaha nyata dari para korporasi besar. Lingkungan harus ada dalam agenda setiap orang, bukan hanya menjadi isu “bonus” semata.

 

Setelah itu, ada beberapa tolak ukur yang kita dapat gunakan untuk merealisasikannya. Seiring dengan berkembangnya peternakan sebagai sumber utama emisi gas rumah kaca, penting bagi kita untuk berhenti mengonsumsi daging, susu, dan telur, atau paling tidak mengurangi konsumsinya.

 

Kita bisa mendapatkan segala nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk hidup sehat dari tanaman, dan tetap makan santapan yang lezat!

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload